Mengembalikan Generasi Muslim Gemar ke Masjid (Bagian Kedua)
Oleh: Ki. Wakijan
Ketua Yayasan Perguruan Tamansiswa Gunungkidul
Masjid kita hari ini sedang mengalami “mati suri”. Bukan karena bangunannya rapuh atau kubahnya bocor, melainkan karena jantungnya mulai melemah. Jantung itu adalah generasi muda.
Lihatlah shalat Subuh. Saf-saf dipenuhi orang tua dan para lansia. Demikian pula ketika Maghrib tiba, wajah-wajah yang hadir hampir tidak berubah. Sementara itu, sebagian besar anak muda lebih betah menghabiskan waktu di kafe, bermain gim daring, atau tenggelam dalam layar media sosial.
Ini adalah sinyal darurat bagi umat. Jika jantung berhenti memompa, tubuh akan kehilangan tenaga. Begitu pula jika masjid kehilangan generasi mudanya, maka denyut kehidupan umat perlahan akan melemah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, salah satunya adalah seorang pemuda yang hatinya terpaut kepada masjid.” (HR. Bukhari No. 660)
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam telah menempatkan pemuda sebagai bagian penting dalam kemakmuran masjid. Karena itu, apabila hari ini hati mereka tidak lagi tertaut kepada masjid, persoalannya bukan semata-mata pada generasi mudanya. Bisa jadi, masjid belum mampu menghadirkan suasana yang membuat mereka merasa diterima, dibutuhkan, dan dicintai.
Oleh sebab itu, diperlukan sebuah “Operasi Jantung Masjid”. Bukan sekadar tambal sulam atau kegiatan seremonial sesaat, melainkan perubahan yang menyentuh akar persoalan secara nyata dan berkelanjutan.
Pertama, Operasi Keteladanan: “Shalat Dulu, Baru Ceramah”
Anak-anak tidak membutuhkan seribu nasihat jika mereka tidak melihat satu teladan. Allah SWT berfirman:
“Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS. Ash-Shaff: 2–3)
Perubahan harus dimulai dari rumah. Orang tua hendaknya menjadi yang pertama mengajak anak ke masjid. Guru memberi contoh, bukan sekadar mengingatkan. Pimpinan menjadi teladan bagi bawahannya. Ustaz menjadi orang pertama yang hadir ketika azan berkumandang.
Satu sosok pemimpin yang datang ke masjid tepat waktu akan lebih kuat pengaruhnya daripada seribu baliho bertuliskan “Ayo ke Masjid”.
Kedua, Operasi Fungsi: “Kembalikan Masjid Sebagai Rumah”
Pada masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi bukan hanya tempat shalat. Ia menjadi pusat pendidikan, tempat musyawarah, pusat pelayanan sosial, bahkan ruang pembinaan masyarakat.
Bandingkan dengan sebagian masjid saat ini. Begitu shalat selesai, pintu ditutup, lampu dipadamkan, kipas dimatikan, lalu masjid kembali sunyi.
Padahal Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.”(QS. At-Taubah: 18)
Memakmurkan masjid bukan hanya memperindah bangunannya, tetapi juga menghidupkan aktivitasnya.
Masjid perlu kembali menjadi rumah bagi masyarakat. Di dalamnya dapat tumbuh kelas mengaji, perpustakaan, klinik kesehatan gratis, mentoring bisnis, pusat belajar digital, ruang diskusi pemuda, hingga komunitas e-sport Islami yang diarahkan kepada nilai-nilai positif. Ketika masjid hidup sepanjang hari, masyarakat pun akan kembali merasa memilikinya.
Ketiga, Operasi Bahasa: “Ganti Mimbar Menjadi Dialog”
Banyak anak muda tidak menolak agama. Mereka hanya lelah dengan cara penyampaian yang terasa menghakimi. Mereka membutuhkan jawaban, bukan kemarahan. Mereka memerlukan solusi, bukan sekadar vonis.
Karena itu, dakwah harus hadir dengan bahasa yang mereka pahami. Kajian yang singkat namun berbobot sering kali lebih membekas daripada ceramah panjang tanpa arah.
Bahaslah persoalan yang mereka hadapi: kegelisahan hidup, pendidikan, karier, pergaulan, kesehatan mental, hingga tantangan media sosial, semuanya dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah SWT berfirman:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Podcast masjid, konten dakwah di media sosial, kajian interaktif, dan diskusi terbuka merupakan sarana yang dapat menjembatani generasi muda dengan nilai-nilai Islam.
Keempat, Operasi Kepemilikan: “Berikan Ruang, Bukan Sekadar Tugas”
Remaja masjid jangan hanya dijadikan petugas kebersihan atau tenaga pelaksana. Berilah mereka kepercayaan.
Libatkan mereka dalam kepengurusan. Berikan ruang untuk mengelola kegiatan. Dukung gagasan mereka dengan anggaran dan pendampingan.
Rasulullah SAW telah memberikan teladan dengan mempercayakan amanah besar kepada para sahabat muda. Mu’adz bin Jabal diutus sebagai guru dan dai, sedangkan Usamah bin Zaid dipercaya memimpin pasukan besar pada usia yang masih sangat muda.
Ketika seorang pemuda merasa, “Ini masjidku,” maka ia akan menjaga, membela, dan memakmurkannya dengan sepenuh hati.
Kelima, Operasi Ekosistem: “Jadikan Masjid Sebagai Kebanggaan”
Menghidupkan masjid tidak mungkin hanya menjadi tugas takmir.
Sekolah dapat membangun budaya mencintai masjid melalui berbagai program pembinaan. Perguruan tinggi dapat memberikan penghargaan atas aktivitas kemasjidan mahasiswa. Dunia kerja dapat mengapresiasi karyawan yang aktif dalam pelayanan masjid. Pemerintah daerah pun dapat menghadirkan program seperti “Masjid Ramah Pemuda” sebagai bentuk dukungan nyata.
Jika seluruh lingkungan bergerak bersama, maka budaya mencintai masjid akan tumbuh menjadi kebanggaan, bukan sekadar kewajiban.
Penutup
Jantung yang lemah tidak cukup diobati dengan plester. Ia membutuhkan tindakan yang tepat agar kembali berdetak dengan kuat. Demikian pula masjid. Jika ingin mengembalikan generasi muda kepada rumah Allah, maka yang lebih dahulu berubah adalah cara kita mengelola, memakmurkan, dan menghadirkan masjid di tengah kehidupan mereka.
Perubahan memang tidak selalu mudah. Namun setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi investasi besar bagi masa depan umat.
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71)
Marilah kita memulai “operasi” itu dari masjid terdekat, dari keluarga kita, dan dari diri kita sendiri. Semoga kelak masjid kembali dipenuhi suara langkah para pemuda yang datang dengan hati yang terpaut kepada Allah.
Semoga Allah SWT menguatkan ikhtiar kita, memakmurkan masjid-masjid kita, dan menjadikan generasi muda sebagai penerus perjuangan Islam yang berakhlak mulia.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
