Selama ini, setiap kali terjadi peristiwa gantung diri, perhatian masyarakat hampir selalu tertuju pada satu pertanyaan:
“Mengapa hal itu bisa terjadi?”
Padahal, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Bagaimana agar hal itu tidak terjadi lagi?”
Selama empat seri tulisan ini kita telah membahas berbagai kemungkinan penyebab, mulai dari faktor ekonomi, penyakit menahun, spiritualitas, hingga mitos Pulung Gantung. Semua itu memberi pelajaran bahwa tidak ada satu penyebab tunggal yang mampu menjelaskan seluruh kasus.
Karena penyebabnya beragam, maka pencegahannya pun tidak mungkin dilakukan hanya oleh satu pihak.
Pencegahan harus menjadi gerakan bersama.
Gerakan yang dimulai dari keluarga, diperkuat oleh masyarakat, dan didukung oleh sistem pelayanan kesehatan.
Satu Keluarga, Satu Detektor Dini
Selama ini kita melatih masyarakat menghadapi kebakaran, banjir, gempa bumi, bahkan pertolongan pertama pada kecelakaan.
Lalu mengapa kita belum mulai melatih keluarga menghadapi keadaan darurat kesehatan jiwa?
Inilah gagasan yang patut dipertimbangkan.
Satu Keluarga, Satu Detektor Dini.
Maksudnya bukan menjadikan setiap keluarga sebagai psikolog atau dokter.
Tetapi, setidaknya ada satu anggota keluarga yang memiliki pengetahuan dasar untuk mengenali tanda-tanda awal ketika anggota keluarganya mulai mengalami depresi atau krisis psikologis.
Pengetahuan tersebut sebenarnya sederhana : mengenali perubahan perilaku, menyadari ketika seseorang mulai menarik diri dari lingkungan, melihat perubahan pola tidur dan pola makan, memahami ketika seseorang kehilangan semangat hidup, mendengar kalimat-kalimat putus asa yang berulang, dan yang paling penting, mengetahui bahwa kondisi tersebut bukan kelemahan pribadi, melainkan sinyal bahwa seseorang membutuhkan pertolongan.
Detektor dini tidak bertugas mendiagnosis, hanya bertugas mengenali perubahan, hadir sebagai pendamping pertama, kemudian menghubungkan anggota keluarganya dengan bantuan yang tepat.
Jangan Berhenti di Rumah
Namun keluarga tidak mungkin bekerja sendirian.
Tidak semua keluarga memiliki kemampuan yang sama. Tidak semua anggota keluarga mampu mengenali perubahan perilaku. Karena itu, keluarga harus menjadi bagian dari sistem yang lebih besar.
Sistem itulah yang disebut komunitas yang peduli.
Di Gunungkidul, sesungguhnya modal sosial sudah tersedia. Budaya guyub, sambatan, rewang, ronda malam, pengajian, arisan, PKK, Karang Taruna, hingga berbagai kegiatan kemasyarakatan merupakan jaringan sosial yang sangat kuat.
Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya diarahkan untuk menjaga kesehatan jiwa masyarakat.
Padahal setiap pertemuan warga sesungguhnya dapat menjadi ruang untuk saling memperhatikan. Bukan mencampuri urusan pribadi. Tetapi memastikan tidak ada tetangga yang menghadapi persoalan hidup sendirian.
Kalurahan Sebagai Pusat Koordinasi
Agar gerakan ini berjalan, diperlukan koordinasi di tingkat kalurahan. Pemerintah kalurahan dapat menjadi penggerak dengan melibatkan dukuh, RT, RW, kader kesehatan, PKK, Karang Taruna, tokoh agama, tokoh masyarakat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tenaga kesehatan dari puskesmas.
Masing-masing memiliki peran.
Keluarga menjadi detektor pertama.
Tetangga menjadi penguat.
Tokoh agama menjadi pemberi harapan.
Kader kesehatan menjadi pendamping.
Puskesmas menjadi pintu masuk pelayanan kesehatan.
Rumah sakit menjadi tempat penanganan apabila dibutuhkan pelayanan yang lebih lanjut.
Dengan demikian, setiap orang yang mulai mengalami depresi tidak berjalan sendirian. Selalu ada tangan yang menyambutnya.
Rujukan Harus Mudah dan Tidak Menakutkan
Salah satu tantangan terbesar adalah masih adanya anggapan bahwa berkonsultasi mengenai kesehatan jiwa merupakan sesuatu yang memalukan.
Padahal depresi sama seperti penyakit lainnya.
Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang untuk pulih. Karena itu masyarakat perlu mengetahui bahwa puskesmas merupakan tempat pertama yang dapat diakses untuk mendapatkan penilaian awal. Bila diperlukan, tenaga kesehatan akan memberikan pendampingan atau merujuk ke layanan yang lebih lengkap.
Rujukan bukan tanda kegagalan keluarga. Justru itulah bentuk kasih sayang keluarga.
Membangun Budaya Baru
Selama ini masyarakat mengenal istilah Pulung Gantung. Sudah saatnya kita memperkenalkan budaya baru. Budaya saling menjaga. Budaya saling menyapa. Budaya saling mendengar.
Budaya yang mengajarkan bahwa ketika ada tetangga mulai menghilang dari pergaulan, kita tidak bertanya, “Apakah dia mendapat pulung?”
Tetapi kita bertanya, “Apakah dia baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar biasa.
Namun bagi seseorang yang sedang kehilangan harapan, pertanyaan itu bisa menjadi awal dari sebuah pertolongan.
Penutup
Keberhasilan sebuah desa tidak hanya diukur dari jalan yang mulus, gedung yang megah, atau pertumbuhan ekonominya.
Keberhasilan sebuah desa juga diukur dari kemampuannya menjaga setiap warganya agar tetap memiliki harapan untuk hidup.
Karena itu, sudah saatnya kita membangun sistem pencegahan yang terintegrasi.
Keluarga menjadi detektor dini.
Masyarakat menjadi pelindung.
Kalurahan menjadi penggerak.
Puskesmas dan rumah sakit menjadi tempat rujukan.
Ketika keempat unsur ini berjalan bersama, maka kita bukan sekadar menunggu tragedi terjadi, tetapi benar-benar membangun sebuah sistem yang menjaga kehidupan.
Sebab menyelamatkan satu nyawa bukan hanya tugas tenaga kesehatan. Menyelamatkan kehidupan adalah tanggung jawab kita semua.
