JogjaLima – Ada satu pemandangan yang sering membuat hati terasa miris. Ketika azan berkumandang, saf-saf masjid lebih banyak dipenuhi bapak-bapak dan para lanjut usia. Sementara itu, sebagian besar anak muda justru kita jumpai di warung kopi, pusat perbelanjaan, nongkrong di pinggir jalan, atau larut di depan layar telepon genggam mereka.
Fenomena ini bukan semata-mata persoalan rajin atau malas beribadah. Lebih dari itu, ini adalah persoalan masa depan umat. Sebab, hidup atau tidaknya sebuah masjid sering kali menjadi cerminan hidup atau tidaknya sebuah generasi.
Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira tentang tujuh golongan yang akan memperoleh naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Salah satunya adalah seorang pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid.
“Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah…” dan “…seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini menunjukkan bahwa pemuda dan masjid adalah dua hal yang seharusnya tidak terpisahkan. Ketika hubungan itu mulai renggang, sesungguhnya yang sedang rapuh bukan hanya kehidupan masjid, melainkan masa depan generasi Islam.
Lalu, di manakah letak persoalannya? Apakah anak muda zaman sekarang memang sudah tidak peduli terhadap agama?
Belum tentu. Bisa jadi yang sedang hilang justru bukan semangat anak muda, melainkan keteladanan dari orang-orang dewasa.
Krisis Keteladanan, Bukan Krisis Anak Muda
Anak-anak dan remaja adalah peniru yang sangat baik. Mereka lebih mudah mengikuti apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Bagaimana mungkin kita meminta anak bersegera menuju masjid, sementara ayahnya sendiri tetap sibuk memainkan telepon genggam ketika azan berkumandang?
Bagaimana mungkin kita berharap remaja hadir dalam kajian, sementara guru, tokoh masyarakat, bahkan orang tuanya sendiri jarang terlihat berada di saf depan?
Allah SWT telah mengingatkan dengan tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah paling kuat bukanlah melalui kata-kata, melainkan melalui keteladanan.
Seorang ayah yang setiap hari mengajak anaknya berjalan menuju masjid untuk salat berjamaah akan memberikan pendidikan iman yang nilainya jauh lebih besar daripada seribu nasihat yang hanya berhenti di lisan.
Ketika Masjid Kehilangan Fungsinya Sebagai Rumah Umat
Pada masa Rasulullah ﷺ, Masjid Nabawi bukan sekadar tempat mendirikan salat. Masjid menjadi pusat pendidikan, tempat musyawarah, pusat pelayanan sosial, tempat menerima tamu, bahkan ruang pembinaan generasi muda. Masjid benar-benar menjadi jantung kehidupan masyarakat Islam.
Ironisnya, tidak sedikit masjid saat ini yang hanya hidup beberapa menit ketika waktu salat tiba. Setelah itu pintu kembali dikunci, lampu dimatikan, dan aktivitas pun berhenti.
Akibatnya, anak-anak muda kehilangan ruang untuk berdiskusi, belajar, berkarya, dan membangun persaudaraan.
Sementara itu, media sosial, permainan daring, dan berbagai komunitas digital justru mampu memberikan apa yang mereka cari: ruang untuk berkumpul, didengar, dihargai, dan berkembang.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (QS. At-Taubah: 18)
Memakmurkan masjid bukan sekadar memperindah bangunannya. Yang lebih utama adalah menghidupkannya dengan ilmu, kegiatan yang bermanfaat, kepedulian sosial, dan pembinaan generasi.
Bagaimana Mengembalikan Generasi Muda ke Masjid?
Jawabannya sederhana, tetapi membutuhkan komitmen yang besar yaitu Keteladanan.
Keteladanan harus dimulai dari rumah. Biasakan salat berjamaah sebagai budaya keluarga. Ajak anak-anak ke masjid sejak dini, terutama pada waktu Subuh, Magrib, dan salat fardu lainnya. Ceritakan kepada mereka kisah para pemuda teladan dalam Islam, seperti Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, dan para sahabat muda lainnya yang mengabdikan hidupnya untuk agama.
Keteladanan juga harus datang dari para tokoh masyarakat.
Guru, ustaz, ketua RT, tokoh agama, maupun para pemimpin hendaknya menjadi orang-orang yang paling dahulu hadir di masjid. Ketika anak muda melihat sosok yang mereka hormati istiqamah memenuhi saf pertama, mereka akan terdorong untuk mengikuti.
Masjid juga perlu kembali menjalankan fungsinya sebagai pusat pembinaan umat. Berikan ruang kepada remaja untuk berkegiatan. Selenggarakan kajian singkat yang membahas persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti pendidikan, karier, pernikahan, kesehatan mental, hingga literasi digital. Adakan pelatihan kewirausahaan, kelas teknologi, mentoring, dan kegiatan sosial yang melibatkan mereka secara aktif.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…“ (QS. An-Nahl: 125)
Yang tidak kalah penting adalah memberikan kepercayaan kepada generasi muda. Jangan hanya melibatkan mereka saat membersihkan masjid. Libatkan mereka dalam kepengurusan, beri kesempatan menjadi muazin, imam, pembawa acara, pengajar TPA, bahkan jika telah memenuhi syarat, menjadi khatib Jumat.
Ketika mereka diberi amanah, mereka akan merasa bahwa masjid adalah rumah kedua yang harus mereka jaga dan makmurkan.
Penutup
Mengembalikan generasi muda ke masjid tidak cukup dilakukan melalui baliho, spanduk, ataupun pengeras suara.
Masjid akan kembali hidup apabila orang-orang dewasa bersedia menjadi teladan, sahabat, sekaligus pembimbing bagi generasi muda.
Sesungguhnya anak muda tidak membutuhkan ceramah yang paling panjang. Mereka membutuhkan contoh nyata. Mereka ingin melihat orang-orang yang mereka hormati berjalan menuju masjid, berdiri di saf terdepan, lalu mengajak dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan.
Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Kaki kitalah yang terlebih dahulu melangkah menuju saf pertama, agar kelak langkah itu diikuti oleh anak-anak dan cucu-cucu kita.
Sebuah pepatah bijak mengatakan, “Satu keteladanan lebih bermakna daripada seribu nasihat.”
Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71)
Semoga Allah SWT menjadikan kita, anak-anak kita, dan seluruh generasi penerus umat sebagai hamba-hamba yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
