Oleh : Ki Wakijan (Ketua Yayasan Perguruan  Tamansiswa Gunungkidul)

Yogyakarta hari ini sedang menghadapi sebuah ujian besar. Di satu sisi, pembangunan fisik berlangsung sangat pesat. Bandara modern telah berdiri, jalan tol mulai menghubungkan berbagai wilayah, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus dikembangkan, dan perguruan tinggi bertaraf internasional semakin memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat pendidikan. Semua itu menunjukkan bahwa Yogyakarta sedang dipersiapkan menjadi salah satu poros peradaban di Pulau Jawa.

Namun, di sisi lain, ada kenyataan yang patut menjadi perhatian bersama. Lahan pertanian di Sleman dan Bantul terus menyusut. Perajin gerabah di Kasongan, pembatik tulis di Giriloyo, hingga para dalang wayang mulai menghadapi persoalan regenerasi. Di ruang-ruang publik, tidak sedikit generasi muda yang lebih fasih menggunakan bahasa gaul maupun bahasa asing dibandingkan bahasa Jawa krama yang selama berabad-abad menjadi simbol kesantunan masyarakat Yogyakarta.

Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: sebesar apa pun pembangunan dilakukan, apa artinya jika roh dan jati diri Yogyakarta perlahan memudar?

Sesungguhnya Yogyakarta memiliki modal pembangunan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Modal tersebut adalah budaya, pendidikan, dan kreativitas.

Budaya Yogyakarta yang berakar pada nilai-nilai Keraton dengan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana mengajarkan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai ini bukan sekadar warisan sejarah, melainkan fondasi moral dalam membangun masyarakat yang beradab.

Di bidang pendidikan, lebih dari 120 perguruan tinggi telah menjadikan Yogyakarta sebagai “kawah candradimuka” bagi lahirnya ilmuwan, pemikir, seniman, dan pemimpin bangsa. Sementara itu, kreativitas masyarakat tumbuh dari desa wisata, UMKM, seni pertunjukan, ekonomi kreatif, hingga kuliner yang tidak sekadar menawarkan rasa, tetapi juga menyimpan kisah dan filosofi.

Sayangnya, pembangunan selama ini sering kali terjebak pada keinginan meniru kota-kota besar lain. Kita ingin memiliki pusat perbelanjaan semegah Jakarta, kawasan bisnis seperti Surabaya, atau gedung-gedung pencakar langit layaknya kota metropolitan. Padahal, kekuatan Yogyakarta justru bukan berada di sana.

Keistimewaan Yogyakarta adalah identitasnya.
Karena itu, jangan memaksa Yogyakarta menjadi kota lain. Biarkan Yogyakarta menjadi dirinya sendiri, tetapi dengan kualitas yang semakin maju, modern, dan berkeadaban.

Dalam perspektif tersebut, budaya tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap pembangunan. Budaya harus menjadi mesin utama pembangunan peradaban.

Nilai gotong royong yang masih hidup di desa-desa dapat menjadi modal sosial dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Tata krama dan etika Jawa merupakan modal penting untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia di sektor jasa dan pariwisata. Bahkan falsafah mikul dhuwur mendhem jero dapat menjadi etika birokrasi yang mengutamakan pelayanan, penghormatan, dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Contoh keberhasilannya sudah ada di depan mata. Kopi Merapi, kerajinan perak Kotagede, batik Giriloyo, gerabah Kasongan, hingga ratusan desa wisata berkembang bukan semata-mata karena suntikan dana besar. Mereka tumbuh karena mampu menjual pengalaman, cerita, tradisi, dan nilai budaya yang tidak dimiliki daerah lain.

Wisatawan datang ke Yogyakarta bukan hanya untuk melihat bangunan atau berbelanja. Mereka datang untuk merasakan suasana, mendengar tembang Jawa, menikmati keramahan masyarakat, belajar filosofi hidup, dan menemukan pengalaman budaya yang autentik.

Di sinilah pemerintah dan masyarakat harus berjalan beriringan.
Dana Keistimewaan semestinya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk beton, aspal, atau pembangunan fisik semata. Dana tersebut juga harus menjadi investasi kebudayaan melalui penguatan sanggar seni, pelestarian bahasa Jawa di sekolah, pemberdayaan pasar tradisional agar mampu bersaing dengan ritel modern, perlindungan terhadap produk budaya lokal, serta pembinaan para pelaku seni dan budaya yang selama ini menjadi penjaga identitas Yogyakarta.

Kepada generasi muda, masa depan Yogyakarta sesungguhnya sedang dititipkan.

Banggalah menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Banggalah menjadi petani milenial, perajin, seniman, maupun kreator konten yang mengangkat budaya lokal ke panggung dunia. Jangan pernah malu memperkenalkan produk lokal dengan latar Tugu, Malioboro, atau suasana pedesaan Yogyakarta. Di era digital saat ini, justru keunikan lokal menjadi kekuatan yang paling dicari.

Membangun peradaban daerah berarti memastikan bahwa Tugu Yogyakarta tetap menjadi simbol persatuan, Malioboro tetap hidup bersama para pedagangnya, sawah tetap lestari sebagai penyangga kehidupan, bahasa Jawa tetap dituturkan oleh anak cucu kita, dan nilai-nilai luhur terus menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan.

Yogyakarta tidak harus menjadi kota terbesar.
Yogyakarta cukup menjadi kota yang paling berbudaya.

Sebab dari budaya yang hidup, akan lahir peradaban yang kokoh. Dari identitas yang terjaga, akan tumbuh kemajuan yang berkelanjutan. Dan dari masyarakat yang mencintai akar budayanya, akan lahir Yogyakarta yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga bermartabat di hadapan bangsa dan dunia.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *