Oleh: Ki. Wakijan
Ketua Yayasan Perguruan Tamansiswa Gunungkidul

JogjaLima – Kita sering salah kaprah. Ketika disebut “ke masjid”, yang terbayang di benak kita sering kali hanya shalat lima waktu, shalat Jumat, tarawih, atau kegiatan ibadah ritual lainnya. Padahal, dalam sejarah Islam, fungsi masjid jauh lebih luas dari itu.

Masjid adalah jantung.
Dan sebagaimana jantung memompa darah ke seluruh tubuh, masjid seharusnya menjadi pusat yang memompa iman, ilmu, akhlak, kepedulian sosial, dan semangat membangun peradaban ke seluruh sendi kehidupan umat.

Lihatlah Masjid Nabawi pada zaman Rasulullah SAW. Masjid bukan hanya tempat shalat. Di sana umat belajar ilmu dan wahyu, bermusyawarah, membina akhlak, menyelesaikan berbagai persoalan umat, membangun solidaritas sosial, hingga menyiapkan kader-kader pemimpin.

Dari lingkungan masjid itulah lahir generasi yang kemudian mampu membangun peradaban Islam yang memberikan cahaya ilmu pengetahuan kepada dunia selama berabad-abad.

Lalu, bagaimana dengan masjid kita hari ini?
Banyak masjid kita yang indah dan megah. Kubahnya besar, karpetnya bagus, pengeras suaranya canggih. Tetapi, jangan sampai kemegahan bangunan tidak sebanding dengan kehidupan di dalamnya. Ada masjid yang pintunya dibuka menjelang azan dan kembali sepi setelah shalat selesai.

Anak-anak dan remaja datang hanya sesekali. Bahkan tidak sedikit generasi muda yang merasa bahwa masjid bukanlah tempat mereka.
Akibatnya, masjid semakin didominasi oleh orang-orang tua dan lansia.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (QS. At-Taubah: 18)

Memakmurkan masjid bukan sekadar memenuhi saf ketika shalat.
Memakmurkan berarti menghidupkannya. Mengisinya dengan denyut nadi umat. Dengan ilmu. Dengan pendidikan. Dengan pembinaan generasi. Dengan kegiatan sosial. Dengan kepedulian. Dengan akhlak.

Jika kita ingin mengembalikan generasi Muslim agar gemar datang ke masjid, maka kita harus mengembalikan terlebih dahulu fungsi masjid sebagai jantung peradaban.

Lantas, bagaimana caranya?
Pertama, HIDUPKAN MASJID SEPANJANG HARI
Masjid harus menjadi “rumah kedua”, khususnya bagi generasi Muslim.
Tidak berarti masjid harus selalu ramai tanpa arah. Tetapi masjid harus menyediakan ruang bagi kegiatan positif generasi muda.

Adakan diskusi kepemudaan. Sediakan ruang belajar bagi pelajar dan mahasiswa. Jadikan masjid tempat membaca, mengerjakan tugas, berdiskusi, dan mengembangkan kreativitas. Dengan demikian, anak muda tidak hanya datang ke masjid ketika azan berkumandang.
Mereka datang karena merasa nyaman, diterima, dan memiliki ruang di sana. Ketika masjid hidup, generasi muda akan mulai merasa:
“Ini masjidku.”

Kedua, BICARALAH DENGAN BAHASA GENERASI
Generasi muda membutuhkan ruang untuk bertanya. Jangan hanya menghadirkan ceramah satu arah. Bangun forum dialog dan diskusi. Adakan bedah buku, pelatihan public speaking, kewirausahaan, literasi digital, hingga digital marketing yang berlandaskan nilai-nilai syariah.
Bahas pula persoalan yang benar-benar mereka hadapi:
jodoh, pendidikan, karier, pergaulan, kegelisahan, media sosial, kecanduan gawai, hingga masa depan.

Semua itu dapat dibicarakan dari perspektif Islam.
Hadirkan ustadz atau narasumber yang berilmu, energik, mampu memahami perkembangan zaman, dan dekat dengan dunia anak muda.
Dakwah tidak cukup hanya berbicara kepada generasi muda.
Kita harus mau mendengarkan mereka.

Ketiga, BERI RUANG KEPEMIMPINAN
Jangan menjadikan remaja masjid hanya sebagai peserta kegiatan.
Berikan mereka kepercayaan. Berikan kesempatan menjadi Ketua Remaja Masjid, MC kajian, panitia kegiatan, pengelola media sosial masjid, pengurus perpustakaan, atau penggerak kegiatan sosial. Tentu mereka tetap membutuhkan bimbingan orang-orang yang lebih tua.
Tetapi jangan mengambil seluruh ruang mereka.

Generasi tidak akan belajar menjadi pemimpin jika tidak pernah diberi kesempatan untuk memimpin. Ketika seorang remaja merasa dipercaya, tumbuh rasa tanggung jawab. Dan ketika mereka merasa:
“Ini masjidku,” maka mereka akan rela berbuat, bekerja, bahkan berkorban untuk memakmurkannya.

Keempat, INTEGRASIKAN MASJID DENGAN KEHIDUPAN UMAT
Masjid jangan hanya menjadi pusat ibadah ritual.
Jadikan masjid juga sebagai pusat kehidupan sosial umat. Bisa ada dapur umum, layanan kesehatan, konsultasi keluarga, konseling remaja, santunan sosial, hingga kegiatan pemberdayaan ekonomi umat.

Masjid juga harus menjadi pusat ilmu.
Sediakan perpustakaan, ruang baca, ruang diskusi, dan fasilitas pembelajaran yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Semangatnya adalah menghidupkan kembali masjid sebagai tempat umat beribadah, belajar, bermusyawarah, saling membantu, dan membangun kehidupan bersama.

Kelima, KETELADANAN PARA TOKOH
Ini mungkin yang paling penting. Tokoh agama, pengurus masjid, orang tua, dan para sesepuh harus memberikan keteladanan.
Jangan hanya berbicara kepada anak-anak dan remaja dari mimbar.
Datangi mereka. Sapa mereka. Kenali mereka. Kalau memungkinkan, hafalkan nama mereka.

Duduk bersama mereka. Dengarkan cerita mereka. Pahami kegelisahan mereka. Jangan sampai anak muda merasa bahwa ketika datang ke masjid, mereka hanya akan mendapatkan teguran. Masjid harus menjadi tempat di mana mereka merasa dihargai dan dicintai.

Sebab dakwah yang paling kuat bukan hanya melalui kata-kata. Dakwah yang paling efektif adalah keteladanan melalui akhlak.

Tantangan kita memang besar.
Ada pusat perbelanjaan, kafe, game online, media sosial, YouTube, TikTok, dan berbagai hiburan digital yang setiap hari berlomba-lomba merebut perhatian generasi muda.

Semua itu menawarkan kenyamanan, kesenangan, dan komunitas.
Jika masjid tidak berbenah, jangan salahkan generasi ketika mereka lebih memilih tempat lain.

Bukan karena mereka tidak membutuhkan masjid. Bisa jadi karena kita belum mampu menghadirkan masjid sebagai tempat yang mereka butuhkan. Kita harus berani melakukan perubahan. Ingatlah, peradaban Islam tidak dibangun hanya dari istana. Tapi dibangun dari masjid.

Di lingkungan masjid, generasi seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid dan para ulama besar ditempa dengan iman, ilmu, keberanian, dan akhlak. Karena itu, tugas kita hari ini jelas:
Keluarkan masjid dari kotak “tempat ibadah ritual” semata.
Kembalikan masjid sebagai jantung peradaban.
Tempat yang memompa iman.
Tempat yang menumbuhkan ilmu.
Tempat yang membentuk akhlak.
Tempat yang melahirkan pemimpin.
Tempat yang menguatkan solidaritas umat.
Dan tempat yang menumbuhkan semangat generasi muda untuk membangun masa depan. Sebab, jika jantungnya hidup, maka tubuh umat akan sehat.

Jika masjid hidup, generasi akan kuat. Jika generasi kuat, insyaAllah peradaban akan bangkit. Dan mungkin, kejayaan Islam tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Bisa jadi,  dimulai dari satu masjid kecil.
Dari satu sajadah.
Dari satu anak muda yang kembali datang ke masjid.
Dari satu pengurus yang mau membuka pintu lebih lebar.
Dari satu orang tua yang mau menyapa dan merangkul generasi muda.
Mari kita mulai dari masjid kita sendiri.
Karena masa depan Islam, ada di sana.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *