JogjaLima – Setiap zaman memiliki cerita sendiri tentang orang-orang yang berada di sekitar Bupati Gunungkidul. Mereka bukan selalu pejabat tinggi. Bahkan terkadang bukan pula orang yang memiliki jabatan strategis dalam struktur pemerintahan. Tetapi karena kedekatan, kepercayaan, dan aksesnya kepada bupati, suara mereka bisa memiliki pengaruh yang tidak kecil.
Dalam bahasa masyarakat, mereka kemudian sering disebut sebagai “pembisik bupati.” Istilah itu bisa bermakna negatif, tetapi tidak selalu demikian.
Sejarah pemerintahan Kabupaten Gunungkidul pada era 1999–2004, ketika Bupati Yoetikno (alm.) memimpin, memiliki satu sosok yang cukup dikenal di lingkungan Pemkab Gunungkidul: Pak Wardi Bendol (alm.), seorang staf di sekretariat.
Pak Wardi dikenal sebagai orang dekat Bupati Yoetikno.
Kedekatannya membuat banyak orang yang memiliki kepentingan dengan pemerintah kabupaten berusaha mendekatinya. Mereka yang sedang mencari proyek, membutuhkan akses, atau memiliki kepentingan tertentu kepada pemerintah daerah mengetahui bahwa Pak Wardi merupakan salah satu pintu untuk menyampaikan maksud mereka.
Dari sinilah kemudian muncul julukan yang cukup unik:
“Asisten IV.”
Padahal secara struktur organisasi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul hanya terdapat tiga asisten. Pak Wardi tentu bukan Asisten IV secara formal. Julukan tersebut lebih merupakan gambaran informal mengenai besarnya akses dan kedekatan yang dimilikinya dengan bupati.
Bukan pejabat, tetapi memiliki akses
Fenomena seperti ini menarik untuk dicermati. Dalam birokrasi, kekuasaan secara formal melekat pada jabatan. Tetapi dalam praktik pemerintahan, pengaruh tidak selalu berjalan mengikuti struktur organisasi.
Ada orang yang jabatannya tinggi tetapi aksesnya terbatas. Sebaliknya, ada orang yang secara struktural hanya seorang staf, tetapi karena mendapatkan kepercayaan kepala daerah, aksesnya justru sangat luas.
Pak Wardi adalah salah satu contoh yang pernah dikenal di Gunungkidul.
Orang-orang datang kepadanya karena mengetahui kedekatannya dengan bupati.
Ia menjadi semacam jembatan informal antara orang-orang di luar lingkaran kekuasaan dengan kepala daerah. Termasuk mereka yang sedang mencari proyek maupun mereka yang berharap mendapatkan posisi atau jabatan tertentu.
Namun ada satu hal yang membedakan cerita tentang Pak Wardi. Ia sendiri tidak mengejar jabatan. Padahal dengan kedekatan yang dimilikinya kepada seorang bupati, secara logika politik-birokrasi, peluang untuk memperoleh posisi strategis sebenarnya terbuka.
Tetapi kesempatan itu tidak digunakannya untuk menaikkan posisi dirinya. Ia tetap menjadi staf. Bahkan sampai memasuki masa purna tugas, ia tetap dikenal sebagai staf.
Di titik inilah cerita tentang “pembisik” menjadi menarik. Sebab kedekatan dengan kekuasaan ternyata tidak selalu harus berujung pada kekuasaan formal.
“Asisten IV” yang tidak pernah menjadi asisten
Julukan “Asisten IV” sebenarnya menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat membaca kekuasaan. Tiga asisten secara formal berada dalam struktur pemerintahan.
Tetapi masyarakat mengenal ada seorang staf yang dianggap memiliki akses khusus kepada bupati. Maka lahirlah istilah “Asisten IV”.
Bukan karena ia memiliki ruangan sendiri di jajaran asisten. Bukan karena ada surat keputusan yang mengangkatnya sebagai asisten.
Tetapi karena pengaruh informal terkadang lebih mudah dirasakan daripada struktur formal.
Inilah salah satu sisi menarik dari pemerintahan masa lalu. Dan tentu saja, cerita tersebut harus ditempatkan dalam konteks zamannya.
Tidak tepat jika standar hubungan kekuasaan hari ini begitu saja digunakan untuk menghakimi orang-orang pada masa lalu. Yang menarik justru adalah melihat bagaimana hubungan antara kepala daerah dan orang-orang kepercayaannya bekerja.
Pembisik yang tidak menjadi penguasa
Ada pelajaran penting dari sosok Pak Wardi. Seorang yang dekat dengan kekuasaan sebenarnya memiliki dua pilihan. Ia bisa menjadikan kedekatan itu sebagai kendaraan untuk memperoleh kekuasaan bagi dirinya. Atau ia bisa tetap menjadi dirinya sendiri, meskipun banyak orang datang karena mengetahui kedekatannya dengan penguasa.
Dalam cerita tentang Pak Wardi, sisi kedua itulah yang lebih menarik.
Ia mempunyai akses, tetapi tidak mengejar jabatan.
Ia dikenal banyak orang, tetapi tidak kemudian menjadi pejabat tinggi.
Ia menjadi jembatan bagi orang lain, tetapi tidak menjadikan jembatan itu sebagai tangga untuk dirinya sendiri.
Tentu, seperti halnya setiap tokoh yang berada dekat dengan kekuasaan, kisah tentang Pak Wardi bisa saja memiliki banyak versi. Namun satu hal yang menarik untuk dicatat adalah bagaimana kedekatan informal dengan bupati tidak otomatis membuat seseorang harus mendapatkan posisi formal.
Dari Pak Wardi ke zaman yang berbeda
Zaman telah berubah. Birokrasi berubah. Teknologi berubah. Cara masyarakat berkomunikasi dengan kepala daerah juga berubah. Tetapi satu hal tampaknya tidak pernah berubah:
Di sekitar setiap kekuasaan selalu ada orang-orang yang lebih dekat dibandingkan orang lain.
Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata siapa orang dekat bupati.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Untuk apa kedekatan itu digunakan?
Apakah untuk menyampaikan suara masyarakat?
Apakah untuk membantu bupati memahami persoalan yang tidak terlihat dalam laporan resmi?
Apakah untuk memperlancar pelayanan?
Ataukah justru untuk membuka jalan bagi kepentingan pribadi, proyek, jabatan, dan akses kekuasaan?
Cerita tentang Pak Wardi Bendol menunjukkan bahwa seorang “pembisik” tidak selalu harus dilihat sebagai sosok negatif. Bahkan mungkin ada pembisik yang justru diperlukan oleh seorang kepala daerah—asal ia tidak berubah menjadi penguasa di balik penguasa.
Dan di sinilah cerita tentang para pembisik di sekitar Bupati Gunungkidul menjadi menarik untuk dilanjutkan. Sebab setelah era Bupati Yoetikno, tentu muncul cerita dan karakter yang berbeda.
Siapa orang-orang yang kemudian menjadi “pembisik” pada era bupati-bupati berikutnya?
Dan yang lebih penting:
Apakah mereka sekadar menjadi jembatan antara bupati dengan masyarakat, atau justru menjadi pintu masuk bagi kepentingan orang-orang yang ingin mendekati kekuasaan? Sejarah pemerintahan Gunungkidul mungkin menyimpan banyak cerita tentang itu.
