Oleh: Ki. Wakijan
Ketua Yayasan Perguruan Tamansiswa Gunungkidul
Tahun ajaran baru selalu diawali dengan pemandangan yang sama. Ada anak SD yang masih menangis karena belum siap berpisah dengan orang tuanya. Ada siswa SMP yang tampak canggung memasuki lingkungan baru. Ada pula siswa SMA dan SMK yang datang dengan penuh harapan, mengenakan seragam baru dan memulai babak baru dalam perjalanan hidupnya.
Banyak orang menganggap minggu pertama sekolah hanyalah rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Padahal, sesungguhnya inilah masa yang paling menentukan dalam membangun budaya belajar, karakter, dan semangat peserta didik selama satu tahun ke depan.
Minggu pertama bukan sekadar urusan administrasi sekolah. Tetapi momentum membangun rasa aman, rasa memiliki, dan kepercayaan diri anak. Ketika seorang anak merasa diterima sejak hari pertama, ia akan lebih mudah belajar, berinteraksi, dan berkembang. Sebaliknya, pengalaman awal yang buruk dapat meninggalkan kesan negatif yang memengaruhi motivasi belajar sepanjang tahun.
Karena itu, muncul satu pertanyaan penting: apakah minggu pertama sekolah cukup diserahkan kepada guru?
Jawabannya tentu tidak.
Ki Hadjar Dewantara telah mengingatkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama melalui Trilogi Pendidikan: Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.
Pemikiran tersebut sejalan dengan konsep Ekosistem Pendidikan yang diperkenalkan Anies Baswedan ketika menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan yang berkualitas hanya dapat terwujud apabila keluarga, sekolah, dan masyarakat berjalan bersama sebagai satu ekosistem yang saling menguatkan.
Pandangan ini juga memiliki dasar hukum yang jelas. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Sementara itu, Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru menekankan bahwa MPLS harus berlangsung secara edukatif, menyenangkan, ramah, serta menghargai hak-hak peserta didik.
Dengan demikian, orientasi pendidikan sejak hari pertama bukanlah memberi tekanan, melainkan membangun karakter dan kesiapan belajar.
Lalu bagaimana implementasinya?
Pertama, keluarga menjadi teladan (Ing Ngarso Sung Tulada).
Rumah adalah sekolah pertama, sedangkan orang tua adalah guru pertama bagi anak. Bagi siswa SD, orang tua dapat mempersiapkan anak sejak malam hari, memastikan waktu istirahat cukup, mengantar ke sekolah, dan memberikan semangat sebelum memasuki kelas.
Keteladanan sederhana seperti bangun pagi tepat waktu sesungguhnya merupakan pendidikan karakter yang paling efektif.
Bagi siswa SMP, SMA, dan SMK, kehadiran orang tua dibutuhkan sebagai pendengar yang baik. Pertanyaan seperti, “Bagaimana perasaanmu hari ini?” jauh lebih bermakna daripada sekadar menanyakan pekerjaan rumah.
Percakapan hangat akan membantu anak membangun rasa percaya diri dalam menghadapi lingkungan baru.
Kedua, sekolah membangun semangat (Ing Madya Mangun Karsa).
Minggu pertama seharusnya menjadi milik peserta didik. Guru tidak perlu tergesa-gesa mengejar target kurikulum. Yang jauh lebih penting adalah mengenal karakter setiap siswa, membangun kedekatan, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Bagi siswa SD, mengenal nama seluruh peserta didik, bermain sambil belajar, dan membangun komunikasi merupakan investasi pendidikan yang jauh lebih berharga dibandingkan memberikan ulangan pada hari-hari pertama.
Bagi SMP, SMA, dan SMK, MPLS harus benar-benar menjadi media pembentukan karakter, bukan ajang perpeloncoan. Orientasi kegiatan seharusnya berpusat pada tiga hal, yaitu mengenalkan lingkungan sekolah, menciptakan pengalaman yang menyenangkan, dan memotivasi peserta didik untuk berprestasi.
Kepala sekolah juga perlu membuka ruang komunikasi dengan orang tua melalui pertemuan wali murid pada minggu pertama. Kemitraan yang baik sejak awal akan memudahkan penyelesaian berbagai persoalan pendidikan sepanjang tahun.
Ketiga, masyarakat memberikan dorongan (Tut Wuri Handayani).
Lingkungan sekitar merupakan ruang belajar yang tidak kalah penting dibandingkan sekolah. RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, Karang Taruna, hingga organisasi kemasyarakatan dapat menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak-anak. Mereka juga dapat memberikan edukasi mengenai disiplin, etika bermedia sosial, pencegahan perundungan, bahaya narkoba, dan penguatan karakter kebangsaan.
Khusus bagi siswa SMK, dunia usaha dan dunia industri (DU/DI) perlu dilibatkan sejak awal tahun ajaran untuk memberikan gambaran nyata tentang budaya kerja, kompetensi yang dibutuhkan, dan peluang karier di masa depan. Kehadiran mereka akan menjadi motivasi yang kuat bagi peserta didik.
Penutup
Keberhasilan pendidikan tidak pernah lahir dari kerja satu pihak. Apabila keluarga menjalankan perannya sebagai pemberi teladan, sekolah menjadi penggerak semangat belajar, dan masyarakat hadir sebagai pemberi dukungan, maka minggu pertama sekolah akan menjadi fondasi yang kokoh bagi lahirnya generasi yang berkarakter, berprestasi, dan berdaya saing.
Minggu pertama bukan milik guru semata.
Minggu pertama adalah milik seluruh ekosistem pendidikan.
Sebab, anak-anak hebat tidak dibentuk hanya oleh ruang kelas, melainkan oleh keluarga yang peduli, sekolah yang menginspirasi, dan masyarakat yang bersama-sama mengambil tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sebagaimana pesan Ki Hadjar Dewantara, “Setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah, dan setiap tempat adalah ruang belajar.”
Maka, jangan pernah menyerahkan minggu pertama sekolah hanya kepada guru. Jadikanlah minggu pertama sebagai gerakan bersama untuk mengantarkan anak-anak memasuki masa depan yang lebih baik.
