JogjaLima — Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Jawa Timur. Hingga Kamis (3/9/2026), sebanyak 664 orang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.
Para korban terdiri dari santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam serta siswa dari sejumlah sekolah di wilayah Tanggulangin. Mereka dilaporkan mengalami sejumlah gejala, antara lain mual, muntah, pusing, dan gangguan kesehatan lainnya setelah mengonsumsi makanan MBG pada Selasa (1/9).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dari 664 orang yang terdampak, 581 orang telah diperbolehkan pulang, sementara 77 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan dan enam lainnya masih dalam tahap observasi. Kondisi pasien yang masih dirawat dilaporkan secara umum stabil.
Distribusi Makanan Jadi Sorotan
Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut dugaan masalah berkaitan dengan proses distribusi makanan. Makanan yang seharusnya segera didistribusikan setelah selesai dimasak dilaporkan sempat tertahan lebih dari empat jam sebelum dikonsumsi.
Kondisi tersebut diduga meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri pada makanan, terutama karena makanan tidak menggunakan bahan pengawet. BGN menyatakan investigasi masih dilakukan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Kasus ini juga menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, memastikan korban mendapatkan penanganan medis dan biaya pengobatan akan ditanggung negara.
Pemerintah provinsi juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memastikan kebutuhan obat-obatan dan logistik medis bagi para korban tersedia.
SPPG Kalitengah Dihentikan Sementara
Menanggapi kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah. Sampel makanan telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium guna membantu mengungkap penyebab kejadian.
SPPG tersebut diketahui memasok sekitar 2.800 porsi MBG setiap hari untuk sejumlah sekolah dan Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Sebanyak 19 lembaga pendidikan disebut menerima distribusi dari SPPG tersebut.
BGN juga menyatakan adanya dugaan kelalaian dalam pelaksanaan prosedur penyediaan dan distribusi makanan. Kepala BGN Sudaryono bahkan menyebut kejadian tersebut sebagai “kelalaian yang disengaja” dan membuka kemungkinan adanya proses hukum apabila ditemukan unsur pidana.
Evaluasi Program MBG
Insiden di Sidoarjo menambah daftar kasus dugaan keracunan yang berkaitan dengan program MBG di Jawa Timur. Sebelumnya, sekitar 200 siswa dari 12 sekolah di kawasan Tembok Dukuh, Surabaya, juga dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah menyantap menu MBG pada Mei 2026.
Rangkaian kejadian tersebut mendorong perhatian terhadap standar keamanan pangan, kebersihan dapur, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan MBG.
Pemerintah diminta memastikan seluruh tahapan penyediaan makanan memenuhi standar keamanan pangan agar program yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat tersebut tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi penerimanya.
Hingga kini, penyebab pasti kejadian di Sidoarjo masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut.
