Oleh: Ki. Wakijan
Ketua Yayasan Perguruan Tamansiswa Gunungkidul

Pada Bagian Pertama, kita sudah sepakat bahwa Gunungkidul memiliki modal utama berupa lahan yang luas, terbentang, dan siap untuk dikembangkan. Tetapi lahan tanpa pengelolaan yang cerdas hanya akan menjadi hamparan yang tidur. Tanah membutuhkan sentuhan pengetahuan dan teknologi agar nilai ekonominya meningkat dan mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Masa depan Gunungkidul tidak akan ditentukan semata-mata oleh seberapa luas tanah yang kita miliki. Masa depan akan ditentukan oleh seberapa pintar kita memadukan tiga kekuatan: lahan, teknologi, dan otak kampus. Inilah yang saya sebut sebagai segitiga emas ketahanan pangan Gunungkidul.

Mengapa Harus Teknologi?
Tantangan sektor pertanian hari ini sudah berubah. Iklim semakin sulit diprediksi. Ketersediaan air, terutama di wilayah karst, menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Para pekerja pertanian juga semakin menua, sementara generasi muda belum banyak yang melihat pertanian sebagai bidang usaha yang menjanjikan.

Pada saat yang sama, pasar menuntut sesuatu yang semakin tinggi: kualitas, kontinuitas, efisiensi, dan kepastian pasokan. Cara bertani seperti 15 tahun lalu tentu tidak harus ditinggalkan seluruhnya. Tetapi cara lama saja tidak akan cukup untuk menjawab tantangan masa depan.
Karena itu, teknologi harus mulai menjadi bagian dari kehidupan pertanian Gunungkidul.

Teknologi yang dimaksud bukan berarti harus selalu berupa traktor raksasa, mesin mahal, atau drone berharga tinggi. Justru teknologi tepat guna yang sederhana dan sesuai dengan kondisi Gunungkidul akan jauh lebih relevan.

Irigasi tetes, misalnya, dapat membantu menghemat penggunaan air. Greenhouse sederhana dapat melindungi tanaman dari cuaca ekstrem. Sensor tanah dengan harga terjangkau dapat membantu petani mengetahui kapan tanaman membutuhkan air. Aplikasi telepon genggam dapat digunakan untuk memperoleh informasi harga pasar, cuaca, kebutuhan pupuk, hingga ancaman hama dan penyakit tanaman.

Dengan teknologi yang tepat, produktivitas dapat ditingkatkan, risiko dapat ditekan, dan penggunaan sumber daya dapat dibuat lebih efisien.
Tetapi kita harus menyadari satu hal: teknologi hanyalah alat.

Teknologi tidak akan bekerja sendiri.

Teknologi membutuhkan operator., membutuhkan riset, membutuhkan orang yang mau mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mencoba kembali. Di sinilah “otak kampus” menjadi sangat penting.

Yogyakarta dan Kekuatan Kampus
Gunungkidul memiliki keuntungan geografis yang luar biasa. Daerah ini berada dalam satu kawasan dengan Yogyakarta, sebuah wilayah yang memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang sangat kuat.

Ada puluhan perguruan tinggi negeri maupun swasta dengan ribuan dosen, mahasiswa, laboratorium, pusat penelitian, dan sumber daya pengetahuan yang sebenarnya dapat menjadi mitra strategis pembangunan Gunungkidul.

Pertanyaannya sekarang sederhana:
Mengapa kekuatan intelektual yang begitu besar itu belum sepenuhnya terhubung dengan sawah, ladang, petani, dan persoalan nyata di desa-desa Gunungkidul?

Jembatan antara kampus dan lahan pertanian harus kita bangun.
Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mahasiswa belajar teori dan menghasilkan skripsi. Kampus harus hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat.

Setidaknya ada tiga peran nyata yang dapat dimainkan kampus.

Pertama, Kampus sebagai Laboratorium Lapangan

Kampus harus turun ke sawah. Dosen dan mahasiswa dapat bermitra langsung dengan kelompok tani untuk melakukan penelitian yang menjawab persoalan nyata di lapangan.

Misalnya, melakukan riset tentang varietas sorgum yang tahan kekeringan. Mengembangkan pupuk organik dari kotoran ternak yang tersedia di masyarakat. Menguji teknologi irigasi hemat air.

Mengembangkan hidroponik untuk lahan terbatas. Atau mencari pola tanam yang paling sesuai dengan karakter tanah dan iklim Gunungkidul.

Dengan demikian, penelitian tidak berhenti sebagai dokumen yang tersimpan di perpustakaan. Hasil penelitian harus kembali ke masyarakat dalam bentuk teknologi, metode, produk, atau model usaha yang bisa digunakan petani. Sawah dan ladang harus menjadi laboratorium terbuka bagi perguruan tinggi.

Kedua, Kampus sebagai “Pabrik SDM” Pertanian Baru
Kita juga membutuhkan generasi baru yang memandang pertanian dengan cara berbeda. Mahasiswa pertanian jangan hanya diajari bagaimana menanam dan memanen. Mereka juga harus diajari bagaimana menghitung biaya produksi, membuat kemasan, membangun merek, menggunakan teknologi digital, membaca pasar, melakukan pemasaran daring, dan membangun jaringan bisnis.

Jika memungkinkan, mahasiswa diberi kesempatan untuk melakukan magang dalam waktu yang cukup panjang di kelompok tani atau perusahaan pertanian.

Dengan demikian, kita tidak hanya melahirkan sarjana pertanian. Kita melahirkan wirausahawan pertanian. Kita membutuhkan generasi yang berani menjadi “CEO Tani”—anak muda yang tidak malu bekerja di sektor pertanian, karena mereka tahu bahwa pertanian dapat menjadi bisnis yang modern, profesional, dan menguntungkan. Pertanian harus kita ubah dari sekadar pekerjaan menjadi profesi dan bisnis masa depan.

Ketiga, Kampus sebagai Broker Inovasi
Kampus juga dapat berperan sebagai penghubung antara petani, pemerintah, dunia usaha, investor, dan perusahaan teknologi.
Kampus dapat mempertemukan inovasi dengan kebutuhan lapangan.
Kampus dapat membantu menguji sebuah teknologi sebelum diterapkan secara luas. Kampus dapat menjadi tempat uji coba bagi startup agroteknologi. Kampus juga dapat membantu memastikan bahwa teknologi yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani.

Dengan demikian, kampus bukan hanya menjadi pusat pengetahuan, tetapi juga menjadi broker inovasi. Pengetahuan bergerak ke desa. Modal bergerak ke sektor produktif. Teknologi bergerak ke lahan. Dan hasil pertanian bergerak menuju pasar.

Pemerintah Daerah Harus Menjadi Penghubung
Kolaborasi ini tentu tidak akan berjalan tanpa peran Pemerintah Daerah.
Pemerintah daerah harus menjadi fasilitator yang mempertemukan ketiga kekuatan tersebut.

Program “Kampus Masuk Desa/Kalurahan” dapat dikembangkan secara lebih sistematis. Bukan sekadar kegiatan seremonial atau pengabdian masyarakat beberapa hari, tetapi menjadi kemitraan jangka panjang antara perguruan tinggi dan kalurahan.

Jika diperlukan, pemerintah daerah dapat menyediakan hibah riset yang secara khusus diarahkan untuk menyelesaikan persoalan Gunungkidul.
Bangun agrotechnopark sebagai etalase inovasi pertanian. Jadikan tempat tersebut sebagai ruang pertemuan antara petani, peneliti, mahasiswa, investor, dan pelaku usaha.

Pemerintah juga dapat memberikan berbagai bentuk insentif bagi perusahaan teknologi atau startup pertanian yang bersedia melakukan penelitian, pengembangan, dan investasi di Gunungkidul.

Dengan begitu, Gunungkidul tidak hanya menjadi pasar teknologi.
Gunungkidul harus menjadi tempat lahir dan berkembangnya teknologi pertanian yang sesuai dengan karakter wilayahnya sendiri.

Membayangkan Gunungkidul Lima Tahun Mendatang
Sekarang mari kita bayangkan Gunungkidul lima tahun ke depan.
Di satu sisi terdapat lahan pertanian yang sudah dipetakan secara digital. Kita tahu karakter tanahnya, sumber airnya, jenis tanaman yang cocok, dan potensi produksinya.

Di sisi lain terdapat anak-anak muda lulusan perguruan tinggi yang kembali ke desa membawa pengetahuan, teknologi, dan gagasan baru.
Di tengahnya terdapat petani yang semakin terampil, terbiasa menggunakan teknologi, dan terhubung langsung dengan pasar.
Tidak ada lagi jarak yang terlalu jauh antara kampus dan sawah.
Tidak ada lagi jarak yang terlalu lebar antara teknologi dan petani.
Dan tidak ada lagi anggapan bahwa pertanian adalah pekerjaan masa lalu.

Inilah Gunungkidul masa depan.
Ketahanan pangan bukan lagi sekadar mimpi atau slogan. Ia menjadi kenyataan karena kita berani mengubah cara berpikir dan cara bekerja.
Kita harus percaya bahwa mengolah tanah membutuhkan kecerdasan sebagaimana mengolah data membutuhkan kecerdasan. Tanah memberikan ruang. Teknologi memberikan kemampuan. Kampus memberikan pengetahuan.

Ketiganya harus dipertemukan.
Karena itu, masa depan pangan Gunungkidul tidak cukup hanya dibangun oleh petani. Tidak cukup pula hanya oleh pemerintah atau kampus.
Masa depan itu harus dibangun bersama. Lahan harus bertemu dengan teknologi. Teknologi harus bertemu dengan pengetahuan. Dan pengetahuan harus kembali kepada masyarakat.

Inilah waktunya kita bergerak. Sebab masa depan Gunungkidul tidak berada jauh di depan mata. Masa depan itu sudah menunggu di ladang.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *