Oleh: Ki. Wakijan (Ketua Yayasan Perguruan Tamansiswa Gunungkidul)
Dulu, dakwah dilakukan dari mimbar. Kini, dakwah juga hadir di timeline. Dulu, peradaban dibangun di pasar, sekolah, pesantren, dan masjid. Sekarang, sebagian wajah peradaban juga dibentuk melalui TikTok, Instagram, WhatsApp, dan berbagai ruang digital lainnya.
Telepon genggam yang kita miliki hari ini bukan sekadar alat komunikasi. Tetapi telah menjadi ruang tempat kita belajar, bekerja, berinteraksi, menyampaikan gagasan, bahkan memengaruhi orang lain. Dalam konteks ini, HP dapat menjadi sarana ibadah apabila digunakan untuk kebaikan. Namun, ia juga dapat menjadi sarana dosa apabila digunakan untuk menyebarkan keburukan.
Di sinilah pentingnya akhlak digital.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim No. 1893)
Hadis ini seakan menjadi salah satu “rumus algoritma” dalam kehidupan seorang Muslim. Ketika seseorang membagikan ilmu yang bermanfaat, mengingatkan kepada kebaikan, atau menyebarkan pesan yang mendorong orang lain melakukan amal saleh, maka ia berpotensi memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang mengamalkannya.
MasyaAllah.
Bayangkan jika satu unggahan ilmu dibaca oleh seratus orang, kemudian sepuluh di antaranya mengamalkannya, lalu kebaikan itu mereka teruskan kepada orang lain. Satu jempol dapat menjadi awal dari mata rantai kebaikan yang panjang.
Namun pertanyaannya: mengapa jempol kita sering kali lebih cepat membagikan ghibah, hoaks, kemarahan, ejekan, dan konten yang sia-sia daripada membagikan ilmu dan kebaikan?
Karena terkadang kita lupa bahwa di dunia digital, akhlak tetap wajib.
Akhlak Tidak Mengenal Dunia Nyata dan Dunia Maya
Allah SWT mengingatkan:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengajarkan bahwa ucapan manusia tidak pernah benar-benar hilang tanpa jejak. Dalam konteks kehidupan digital, pesan yang kita tulis, komentar yang kita tinggalkan, status yang kita unggah, story yang kita bagikan, bahkan percakapan melalui DM, semuanya harus dipertanggungjawabkan.
Di dunia digital, kita mengenal tombol delete. Tetapi di hadapan Allah, tidak ada tombol penghapus amal. Karena itu, sebelum jempol bergerak, hati dan akal harus lebih dahulu bekerja.
Lalu, bagaimana kita mengubah algoritma menjadi aliran pahala Kuncinya adalah satu: membangun akhlak digital.
Pertama, Akhlak Berkata: Jempol Harus Bertanggung Jawab
Setiap kali hendak berkomentar, mengunggah, atau membagikan sesuatu, biasakan bertanya kepada diri sendiri:
Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini perlu?
Tiga pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pagar sebelum jempol kita menekan tombol send, share, atau post.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”(HR. Bukhari)
Prinsip ini tidak hanya berlaku ketika kita berbicara secara langsung. Ia juga berlaku ketika kita mengetik.
Diam di dunia nyata adalah pilihan. Diam di dunia maya pun bisa menjadi ibadah apabila diam tersebut mencegah kita menyebarkan keburukan.
Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua perdebatan harus dilayani. Tidak semua informasi harus dibagikan. Jempol yang mampu menahan diri juga merupakan bentuk akhlak.
Kedua, Akhlak Bermuatan: Bangun Feed yang Menghidupkan Iman
Algoritma media sosial pada dasarnya belajar dari kebiasaan kita. Apa yang sering kita lihat, sukai, komentari, dan bagikan akan memengaruhi apa yang kembali muncul di hadapan kita.
Maka, kita pun perlu bertanya: feed kita sedang membentuk diri kita menjadi siapa?
Jika setiap hari yang kita konsumsi adalah kemarahan, sensasi, gosip, pamer, dan pertengkaran, jangan heran apabila hati ikut dipenuhi kegaduhan.
Sebaliknya, jika kita membiasakan diri melihat kajian, ilmu, nasihat, motivasi, kisah inspiratif, dan konten yang mengingatkan kepada Allah, ruang digital kita dapat berubah menjadi taman yang menyejukkan iman.
Jadikan akun kita sebagai “mini masjid” di dunia maya.
Tidak harus setiap unggahan berupa ceramah. Bisa berupa satu ayat, satu hadis, satu nasihat, satu kisah, satu refleksi, atau sekadar kalimat yang membuat seseorang kembali mengingat Allah.
Kita tidak pernah tahu, siapa yang sedang membutuhkan satu kalimat kebaikan yang kita unggah hari ini.
Ketiga, Akhlak Bermuamalah: Amanah di Dunia Maya
Akhlak juga harus hadir dalam transaksi dan hubungan sosial di ruang digital.
Jujurlah dalam berjualan secara online. Jangan menggunakan foto yang menipu. Jangan membuat testimoni palsu. Jangan memanipulasi informasi produk. Jangan mengambil karya orang lain tanpa izin. Jangan menjatuhkan kompetitor hanya demi memenangkan persaingan.
Dunia boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Cara berjualan boleh berganti. Tetapi nilai kejujuran tidak pernah usang.
Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang jujur dan amanah, termasuk dalam aktivitas perdagangan. Karena itu, menjadi Muslim yang baik di dunia digital bukan hanya rajin membuat konten dakwah. Menjadi jujur dalam jual beli online pun adalah dakwah.
Menepati janji adalah dakwah. Mengembalikan hak orang lain adalah dakwah. Menghargai karya orang lain adalah dakwah. Tidak menipu pelanggan adalah dakwah. Akhlak yang baik sering kali menjadi bentuk dakwah yang jauh lebih kuat daripada kata-kata.
Keempat, Bermaaf-maafan: Lapangkan Hati di Kolom Komentar
Ruang digital juga melahirkan penyakit sosial baru: debat kusir, perundungan (bullying), penghinaan, saling serang, hingga budaya cancel yang sering dilakukan tanpa pertimbangan yang matang.
Berbeda pendapat adalah hal yang wajar. Tetapi perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan.
Allah SWT berfirman:
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)
Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya memaafkan dan berlapang dada. Di media sosial, tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua orang harus diyakinkan. Tidak semua provokasi harus dilayani.
Jika diperlukan, kita boleh memilih untuk tidak menanggapi. Kita boleh memblokir akun yang mengganggu. Kita boleh meninggalkan percakapan yang tidak sehat.
Tetapi jangan membalas keburukan dengan keburukan.
Sebab, ketika kita membalas hinaan dengan hinaan, kita bukan sedang memenangkan perdebatan. Kita justru sedang kehilangan kesempatan untuk menunjukkan akhlak.
Panggung Dakwah Ada di Genggaman
Wahai para orang tua, guru, remaja, mahasiswa, konten kreator, pedagang, pekerja, dan kita semua. Sesungguhnya kita memiliki panggung dakwah di dalam genggaman.
Tidak semua orang harus berdiri di atas mimbar. Tidak semua orang harus menjadi penceramah. Tetapi setiap orang yang memiliki telepon genggam memiliki kesempatan untuk menyebarkan kebaikan.
Satu pesan yang kita teruskan mungkin menjadi pengingat bagi seseorang. Satu video yang kita bagikan mungkin membuat seseorang kembali belajar agama. Satu komentar yang santun mungkin menghentikan seseorang dari kemarahan. Satu tulisan yang kita buat mungkin menjadi inspirasi bagi orang lain untuk berubah. Karena itu, jangan sia-siakan jempol kita.
Setiap scroll adalah pilihan. Setiap klik adalah amal. Setiap unggahan adalah jejak.
Jika kita mampu mengubah algoritma TikTok agar konten kita FYP (For You Page), mengapa kita tidak berusaha mengubah algoritma kehidupan kita agar FYP juga menjadi:
For Your Pahala.
Tentu saja, pahala bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh algoritma media sosial. Pahala adalah hak prerogatif Allah SWT. Namun, ungkapan “For Your Pahala” dapat menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas digital yang kita lakukan seharusnya diarahkan kepada sesuatu yang bernilai di hadapan-Nya.
Maka, mari kita mulai dari hal yang paling sederhana: jempol kita.
Sebelum membagikan sesuatu, pikirkan manfaatnya. Sebelum berkomentar, pikirkan akibatnya. Sebelum membuat konten, luruskan niatnya. Sebelum menekan tombol share, tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah yang saya sebarkan ini akan menjadi pahala atau justru menjadi beban?
Mari kita bangun peradaban yang berakhlak, dimulai dari ruang digital yang kita miliki.
Sebab bisa jadi, satu unggahan sederhana yang kita buat dengan ikhlas menjadi jalan bagi seribu orang untuk menemukan kebaikan.
Dan bisa jadi pula, ketika kita sudah tiada, kebaikan itu masih terus dibaca, diamalkan, dan diteruskan. Pada saat itulah, teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat komunikasi.
Teknologi berubah menjadi jalan kebaikan.
Dan algoritma yang semula hanya mengejar perhatian manusia, kita arahkan menjadi bagian dari aliran pahala menuju Allah SWT.
