Pertengahan Agustus 2026, satu curhatan berbasis akar rumput datang memecah kesunyian saya. Karena berawal dari problem akar rumput, justru menarik untuk diperbincangkan.

Bukankah disertasi doktoral Prof. Clifford Geertz juga berangkat dari pengamatan terhadap budaya akar rumput dalam memahami kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Jawa? Dari sana kemudian lahir tiga klasifikasi yang sangat terkenal: abangan, santri dan priyayi.

Artinya sederhana: sesuatu yang tampak kecil di bawah, terkadang justru menyimpan persoalan besar untuk dipikirkan. Saya teringat pengalaman kakak sepupu saya. Semakin sederhana sebuah pertanyaan, semakin sulit jawabannya.

Inti disertasinya di Fakultas Pertanian UNAIR Surabaya, kalau saya tidak keliru, adalah persoalan yang sangat sederhana tetapi membutuhkan penelitian serius: seberapa kadar air pada bulir-bulir padi dapat diketahui melalui foto udara?

Begitulah ilmu bekerja. Pertanyaan sederhana tidak selalu menghasilkan jawaban sederhana. Demikian pula dengan pertanyaan seorang ibu yang mengirimkan curhatan kepada saya.

Simak curhatan klien saya berikut ini, tanpa mengubah isi, agar terlihat alami:

‘‘Tadz….. Ada slah stu ibu AISYIAH level Kecamatan . Yg skrg tdk aktif lg . Dan org mnilai citranya dh buruk . Sehingga dibenci sana sini . Nah….. Kbetulan aku sm dia dia , hub agk dekat . Krn sy sering minta utk menjahit baju . Dan kajian mabit sm dia . Nah…ktika org2 pd gak suka sm dia . Apa sy hrus mnjauh jg ? . Sementara sy , tdk prnh dirugikan sm dia . Knp org2 cara mnilai org ky gitu seeh . G suka sm si A, org sekelilingnya A dianggap sama . Model emak2 suka ky gitu . Maaf tadz…. curhat . Abisss kezel si. Tp ya itu tadz, Clekit gitu Tadz…. Ketika ada org yg dianggap sampah ( itu klimat yg sy dengar) . Apkh hrus dihindari ato gmn si tadz baiknya ?? . Sy mlihat di antara ibu2 AISYIAH . Seneng ktika org model ky gitu, kluar dr Aisyiyah . Krn dianggap mengotori citra AISYIAH . Sementara sy sm skli gk tau persoalnya dulu sperti apa . Klo sy njahit baju enak dipake,dia suka ngajak ke kajian . Gitu, jd sy g prnh dirugikan . Kok sy dpt nyinyiran , gara2 jln bareng dia . Sy salah ya tadz ?? . Sy sering mndengar . Utk berteman dgn org2 yg sholih . Sholihnya yg bgsimn si ? . Dn yg sering sy temui . bnyk ibu2 yg klihatan alim . tp gk mau jln dgn org yg dianggap kurg baik . Merasa tdk selevel . Model gitu yg sy kurg sreg tadz”

Curhatan itu sebenarnya membawa kita kepada satu pertanyaan besar:

Apakah seseorang harus dijauhi hanya karena orang lain sudah memberikan cap buruk kepadanya?

Saya menjawabnya dengan sebuah hadis sahih.

HADIS SAHIH TENTANG TOKOH ANTAGONIS

Rasulullah SAW bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

“Sesungguhnya Allah dapat memberikan pertolongan kepada agama ini melalui seorang yang fajir.”

Hadis ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim.

Ini menarik.

Sebab hadis tersebut justru mengajarkan bahwa orang yang memiliki keburukan pada dirinya tidak otomatis berarti seluruh keberadaannya tidak memiliki manfaat bagi kebaikan. Di sini kita harus membedakan dua hal.

Perbuatan buruk tetap buruk.

Tetapi seseorang yang memiliki keburukan tidak berarti seluruh tindakannya, seluruh relasinya, atau seluruh kontribusinya otomatis buruk.

Allah bisa saja menjadikan seseorang yang tidak sempurna sebagai sebab hadirnya sebuah kebaikan. Itulah salah satu makna penting dari hadis tersebut. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa Allah dapat menolong dan menguatkan agama melalui orang yang fasik atau tidak saleh.

Maka jangan terburu-buru menganggap:

“Dia orang buruk, berarti semua yang berkaitan dengannya pasti buruk.”

Tidak sesederhana itu. Kalau kita menggunakan logika demikian, kita akan mudah terjebak pada budaya guilt by association:

“Saya tidak suka A, maka siapa pun yang dekat dengan A juga saya anggap buruk.”

Padahal belum tentu. Dan inilah yang sebenarnya ditanyakan ibu dalam curhatan tadi. Ibu itu  tidak bertanya apakah orang tersebut sempurna.  Hanya berkata:

“Saya tidak pernah dirugikan olehnya.”

Pertanyaannya menjadi sangat manusiawi:

Mengapa saya harus membenci seseorang hanya karena orang lain membencinya?

TERKADANG KARTU SUKSES DIPEGANG SOSOK YANG DIANGGAP RUSAK

Sejarah manusia penuh dengan paradoks semacam itu. Kadang-kadang sebuah keberhasilan justru terjadi melalui tangan seseorang yang tidak dianggap sebagai tokoh ideal. Bahkan dalam sejarah Islam sendiri terdapat contoh yang sangat kuat.

Abu Thalib

Abu Thalib bukan seorang Muslim menurut pendapat mayoritas ulama. Tetapi siapa yang paling keras melindungi Rasulullah SAW ketika tekanan Quraisy semakin hebat?

Abu Thalib.  Menjadi pelindung Rasulullah, menjadi tameng sosial bagi Muhammad SAW, membela keponakannya ketika banyak orang Quraisy memusuhinya.

Dengan demikian kita dapat melihat sebuah paradoks:

Dalam persoalan akidah, Abu Thalib memiliki posisi yang berbeda dengan umat Islam. Tetapi dalam sejarah perjuangan Rasulullah, ia memiliki peran perlindungan yang sangat besar.

Ini bukan berarti kita membenarkan persoalan akidahnya. Bukan.Tetapi kita sedang belajar satu hal:

menilai seseorang harus proporsional.

Jangan karena seseorang memiliki satu sisi buruk, lalu seluruh sisi lainnya dihapus dari penilaian.

Umar bin Khattab

Umar bin Khattab juga tidak datang ke Islam dari ruang kosong. Sebelum menjadi Muslim, Umar adalah salah satu tokoh yang keras menentang dakwah Rasulullah SAW. Namun ketika hidayah Allah datang, arah hidupnya berubah total. Orang yang dahulu menjadi ancaman bagi kaum Muslimin kemudian menjadi salah satu pembela Islam yang paling kuat.

Dari sini kita belajar:

manusia tidak boleh dibekukan hanya berdasarkan masa lalunya.

Hari ini seseorang bisa menjadi lawan. Besok ia bisa menjadi sahabat. Hari ini seseorang bisa dicap buruk. Besok ia bisa menjadi orang yang justru melakukan kebaikan. Dan sebaliknya, seseorang yang hari ini tampak saleh pun belum tentu selamanya berada dalam keadaan yang sama. Karena itu, ukuran manusia bukan semata-mata label sosial yang diberikan masyarakat kepadanya.

JANGAN MENILAI ORANG HANYA DARI KELOMPOKNYA

Kembali kepada curhatan tadi. Ada satu kalimat yang menurut saya sangat penting:

“G suka sm si A, org sekelilingnya A dianggap sama.”

Ini penyakit sosial yang sangat sering terjadi. Kita tidak suka seseorang. Kemudian orang-orang yang dekat dengannya ikut kita jauhi.Padahal bisa jadi orang yang dekat dengannya tidak pernah melakukan kesalahan yang sama. Inilah yang perlu kita renungkan.

Pertemanan tidak otomatis berarti persetujuan terhadap seluruh perilaku seseorang.

Kita bisa berteman tanpa membenarkan kesalahannya. Kita bisa berkomunikasi tanpa mengikuti keburukannya. Kita bisa membantu tanpa mengadopsi perilakunya. Kita bisa duduk bersama seseorang tanpa harus menjadi seperti dirinya.

Justru di sinilah kualitas akhlak diuji.

Kalau kita hanya mau berteman dengan orang yang menurut kita sudah sempurna, lalu bagaimana dengan fungsi dakwah? Bukankah dakwah justru membutuhkan kemampuan untuk mendekati manusia yang belum sempurna?

“ORANG SALEH” ITU YANG SEPERTI APA?

Pertanyaan ibu tadi juga menarik:

“Utk berteman dgn org2 yg sholih . Sholihnya yg bgsimn si?”

Ini pertanyaan yang pantas dijawab dengan rendah hati. Sebab kita sering terlalu cepat memberikan gelar:

“Dia orang saleh.”

Padahal kesalehan seseorang tidak cukup diukur dari pakaian, banyaknya kajian yang diikuti, status organisasi, atau seberapa sering seseorang berbicara tentang agama. Kesalehan seharusnya terlihat juga dalam akhlak.

Bagaimana memperlakukan orang yang tidak punya kekuasaan. Bagaimana memperlakukan orang yang berbeda pendapat. Bagaimana  memperlakukan orang yang sedang jatuh. Dan yang tidak kalah penting:

bagaimana  memperlakukan orang yang oleh masyarakat sudah dianggap “sampah”.

Sebab sangat mudah menjadi baik di tengah orang-orang yang semuanya baik kepada kita. Tetapi mempertahankan akhlak ketika berhadapan dengan orang yang dibenci banyak orang, di situlah mungkin kualitas kemanusiaan kita diuji.

TENTANG CERITA YAP MEI HWA

Ada pula cerita yang beredar di masyarakat mengenai Yap Mei Hwa, DN Aidit, Mbah Kiman, dan kaitannya dengan berbagai peristiwa politik 1965.

Sejumlah bagian cerita itu merupakan klaim yang diperselisihkan dan tidak dapat diperlakukan begitu saja sebagai fakta sejarah yang telah terbukti. Bahkan pemberitaan mengenai buku tersebut mencatat adanya bantahan dari pihak keluarga yang disebut dalam cerita itu.

Karena itu, saya tidak ingin menjadikan cerita tersebut sebagai dasar untuk menuduh seseorang. Yang lebih penting justru adalah pelajaran moralnya.

Kalaupun seseorang memiliki masa lalu yang buruk, memiliki pilihan politik yang berbeda, bahkan pernah berada di sisi yang berlawanan dengan kita, bukan berarti seluruh keberadaannya otomatis tidak memiliki satu pun sisi yang berguna. Itulah prinsip yang dapat kita ambil dari hadis tadi.

Allah bisa saja menggunakan siapa saja sebagai sebab bagi terjadinya sesuatu.

AGAMA TIDAK MEMERLUKAN MANUSIA YANG SEMPURNA

Pada akhirnya saya ingin kembali kepada ibu yang curhat tadi. Menurut saya, Anda tidak perlu ikut membenci seseorang hanya karena lingkungan Anda membencinya. Tetapi juga jangan sampai karena merasa kasihan, Anda kemudian membenarkan semua kesalahannya.

Jaga batas.

Kalau dia salah, katakan salah. Kalau dia benar, akui benar. Kalau dia berbuat baik kepada Anda, jangan menyangkal kebaikannya hanya karena orang lain mempunyai masalah dengannya.

Dan kalau suatu saat dia meminta Anda mengikuti sesuatu yang bertentangan dengan agama, tentu Anda harus menolak. Itulah sikap dewasa.

Bukan membenci. Bukan pula membenarkan. Tetapi adil. Sebab mungkin saja orang yang hari ini dianggap “sampah” oleh lingkungan kita ternyata masih memiliki satu kebaikan yang tidak kita ketahui.

Dan mungkin saja orang yang hari ini kita anggap “tidak selevel” justru suatu hari menjadi orang yang Allah pilih untuk melakukan sesuatu yang menyelamatkan banyak orang.

Hadis Nabi SAW sudah mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah dapat memberikan pertolongan kepada agama ini melalui seorang yang fajir.”

Maka jangan terlalu cepat merasa bahwa keselamatan agama hanya berada di tangan orang-orang yang menurut kita tampak saleh.

Sebab agama milik Allah. Manusia hanya menjadi sebab. Dan Allah bebas memilih sebab itu dari mana saja.

Terkadang agama itu diselamatkan oleh sosok yang menurut manusia justru sedang rusak.

Itulah paradoksnya. Dan mungkin, justru di situlah kita belajar untuk tidak mudah menghakimi manusia.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *