Gunungkidul kembali berduka. Hingga pertengahan tahun ini, tercatat sekitar 23 kasus gantung diri. Angka tersebut kembali menempatkan Kabupaten Gunungkidul sebagai daerah dengan jumlah kasus gantung diri yang sangat tinggi di Indonesia.
Pertanyaannya, mengapa ini terus terjadi?
Selama bertahun-tahun, banyak teori dikemukakan untuk menjelaskan fenomena tersebut.
Teori pertama adalah faktor ekonomi. Kemiskinan, pengangguran, dan tekanan hidup dianggap menjadi penyebab utama. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit korban justru berasal dari keluarga yang berkecukupan, memiliki pekerjaan, bahkan kondisi ekonomi yang relatif mapan.
Lalu muncul teori kedua, yaitu penyakit menahun. Memang ada korban yang mengalami sakit berkepanjangan. Akan tetapi, tidak sedikit pula korban yang secara fisik tampak sehat, masih aktif bekerja, dan tidak memiliki riwayat penyakit berat.
Teori berikutnya adalah rendahnya spiritualitas. Ada anggapan bahwa lemahnya keimanan membuat seseorang mudah putus asa. Namun, teori ini juga tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Pernah ditemukan tokoh agama atau orang yang dikenal taat beribadah mengakhiri hidupnya sendiri. Artinya, persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar kuat atau lemahnya ibadah seseorang.
Di tengah berbagai penjelasan tersebut, masyarakat Gunungkidul mengenal sebuah kepercayaan yang diwariskan turun-temurun, yaitu Pulung Gantung.
Sebagian masyarakat meyakini pulung sebagai pertanda gaib bahwa akan ada seseorang yang mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Kepercayaan ini telah hidup dalam mitos masyarakat selama puluhan tahun.
Sebagai warisan budaya, mitos tentu layak dipahami. Namun sebagai penjelasan ilmiah terhadap penyebab seseorang mengakhiri hidupnya, hingga hari ini belum ada bukti ilmiah yang dapat membenarkan bahwa Pulung Gantung menjadi penyebab langsung seseorang melakukan bunuh diri.
Di sinilah letak tantangan kita.
Apabila masyarakat terlalu yakin bahwa setiap peristiwa adalah “takdir” atau “jatah pulung”, tanpa disadari kita dapat kehilangan semangat untuk melakukan pencegahan. Padahal banyak penelitian justru menunjukkan bahwa bunuh diri dapat dicegah melalui deteksi dini, kepedulian keluarga, dukungan sosial, dan layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau.
Bukan berarti mitos harus dihilangkan. Sebaliknya, mitos perlu diberi makna baru. Pulung Gantung dapat dipahami sebagai pengingat agar masyarakat lebih waspada terhadap tetangga, saudara, atau anggota keluarga yang mulai menarik diri dari pergaulan, sering putus asa, kehilangan semangat hidup, atau menunjukkan perubahan perilaku yang drastis.
Apabila reinterpretasi seperti ini dibangun, maka “pulung” bukan lagi dianggap sebagai pertanda kematian, tetapi menjadi alarm sosial yang menggerakkan kepedulian warga. Ketika ada seseorang yang mulai menyendiri, tidak lagi aktif bermasyarakat, atau tampak kehilangan harapan, keluarga, tetangga, tokoh agama, kader kesehatan, pemerintah kalurahan, dan seluruh elemen masyarakat justru harus hadir lebih dahulu. Inilah bentuk gotong royong yang sesungguhnya.
Gunungkidul memiliki modal sosial yang kuat. Budaya sambatan, gotong royong, ronda, pengajian, arisan, dan berbagai kegiatan kemasyarakatan sesungguhnya dapat menjadi ruang untuk saling memperhatikan kondisi sesama. Tidak ada seorang pun yang seharusnya menghadapi beban hidup sendirian.
Sudah saatnya narasi tentang Pulung Gantung bergeser. Bukan lagi sebagai kisah tentang takdir yang tidak dapat dihindari, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap kehidupan sangat berharga dan setiap warga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga sesamanya.
Karena sesungguhnya, yang lebih kuat daripada sebuah mitos adalah kepedulian manusia kepada manusia lainnya.
“Mungkin kita tidak dapat mengubah semua keadaan. Namun kita selalu dapat memilih untuk lebih peduli. Karena satu sapaan, satu kunjungan, atau satu telinga yang mau mendengar, bisa menjadi alasan seseorang memilih tetap hidup.”
