Masyarakat Gunungkidul sejak lama mengenal sebuah kepercayaan yang disebut Pulung Gantung. Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, pulung digambarkan sebagai cahaya yang melintas di langit pada malam hari, menyerupai bola api atau sinar kemerahan yang bergerak menuju sebuah rumah atau pekarangan.
Konon, rumah yang dilewati atau didatangi cahaya tersebut akan mengalami musibah. Salah satu kepercayaan yang paling dikenal adalah akan ada anggota keluarga yang meninggal karena gantung diri.
Tidak ada yang benar-benar mengetahui kapan cerita ini pertama kali muncul. Pulung gantung hidup melalui cerita lisan, bukan melalui catatan sejarah. Orang tua menceritakan kepada anaknya, anak kemudian menceritakan kepada cucunya, hingga akhirnya Pulung Gantung menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Gunungkidul.
Di sinilah mitos memiliki kekuatannya.
Mitos tidak selalu lahir untuk menjelaskan ilmu pengetahuan. Mitos lahir sebagai cara masyarakat zaman dahulu memahami peristiwa-peristiwa yang sulit dijelaskan.
Pada masa ketika ilmu kedokteran jiwa belum dikenal, depresi belum dipahami, dan kesehatan mental belum menjadi pembahasan, masyarakat membutuhkan penjelasan mengapa seseorang yang tampaknya baik-baik saja tiba-tiba mengakhiri hidupnya.
Lahirlah berbagai cerita yang mencoba menjelaskan peristiwa tersebut. Pulung Gantung adalah salah satunya.
Yang menarik, hingga sekarang belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan bahwa cahaya yang disebut Pulung Gantung benar-benar menjadi penyebab seseorang mengakhiri hidupnya.
Namun, di sisi lain, kita juga tidak dapat mengabaikan bahwa mitos tersebut benar-benar hidup dalam keyakinan sebagian masyarakat.
Lalu mengapa mitos bisa bertahan begitu lama?
Jawabannya sederhana.
Karena manusia cenderung mengingat peristiwa yang sesuai dengan keyakinannya, tetapi sering melupakan peristiwa yang bertentangan dengan keyakinannya.
Ketika suatu malam seseorang melihat cahaya di langit, lalu beberapa hari kemudian terjadi peristiwa gantung diri, cerita itu akan menyebar dengan sangat cepat.
Sebaliknya, berapa kali cahaya serupa terlihat tetapi tidak terjadi apa-apa? Peristiwa seperti itu hampir tidak pernah menjadi cerita.
Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai bias konfirmasi (confirmation bias). Kita cenderung mencari bukti yang memperkuat apa yang sudah kita yakini, sementara bukti yang tidak sesuai sering kali diabaikan.
Belum lagi jika seseorang yang sedang menghadapi tekanan hidup terus-menerus mendengar bahwa dirinya telah “didatangi pulung”. Ucapan itu, meskipun dimaksudkan sebagai cerita biasa, dapat berubah menjadi beban psikologis.
Sedikit demi sedikit, keyakinan itu dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan mulai merasa bahwa nasibnya telah ditentukan.
Bahwa tidak ada jalan keluar.
Bahwa semua orang telah mempercayai akhir hidupnya.
Dalam ilmu psikologi, keadaan seperti ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu ketika sebuah keyakinan atau ramalan akhirnya memengaruhi perilaku seseorang sehingga tampak seperti menjadi kenyataan.
Bukan karena mitos tersebut terbukti benar, melainkan karena pikiran manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang terus-menerus diyakininya.
Di sinilah kita perlu bersikap bijaksana.
Menghormati budaya bukan berarti berhenti berpikir kritis. Sebaliknya, berpikir ilmiah bukan berarti harus merendahkan budaya.
Yang jauh lebih penting adalah menjadikan setiap cerita tentang Pulung Gantung sebagai pengingat agar masyarakat semakin peduli terhadap orang-orang yang sedang mengalami tekanan hidup.
Mungkin yang benar-benar datang ke sebuah rumah bukanlah “pulung”. Melainkan seseorang yang sedang kehilangan harapan.
Dan ketika itu terjadi, keluarga, tetangga, tokoh agama, pemerintah kalurahan, serta masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton. Karena sering kali, yang mampu mengalahkan sebuah sugesti bukanlah perdebatan, melainkan kehadiran orang-orang yang peduli.
