GUNUNGKIDUL – Pernahkah Anda melihat seseorang yang tiba-tiba berkeringat dingin, gemetar, wajah pucat, bahkan mendadak linglung atau pingsan? Banyak orang mengira penyebabnya adalah “masuk angin” atau kelelahan. Padahal, bisa jadi orang tersebut sedang mengalami hipoglikemia, yaitu kondisi ketika kadar gula darah turun secara tiba-tiba.

Hipoglikemia bukan hanya dialami oleh penderita diabetes. Orang yang tidak memiliki riwayat diabetes pun dapat mengalaminya dalam kondisi tertentu. Karena itu, mengenali gejalanya sangat penting agar pertolongan dapat diberikan secepat mungkin.

Apa Itu Hipoglikemia?
Tubuh kita membutuhkan gula (glukosa) sebagai sumber energi utama. Glukosa ibarat bahan bakar bagi kendaraan. Hampir seluruh organ membutuhkan glukosa, terutama otak.

Berbeda dengan otot yang masih dapat menggunakan cadangan energi lain, otak sangat bergantung pada glukosa yang dibawa oleh darah. Ketika kadar gula darah turun terlalu rendah, otak akan mulai kekurangan energi sehingga berbagai gejala segera muncul.

Mengapa Gula Darah Bisa Turun Mendadak?
Setiap hari tubuh bekerja seperti “pengatur otomatis”. Setelah kita makan, kadar gula darah naik sehingga pankreas mengeluarkan insulin untuk memasukkan gula ke dalam sel.

Sebaliknya, saat kita belum makan, hati akan melepaskan cadangan gula agar kadar gula darah tetap stabil.
Masalah muncul ketika keseimbangan itu terganggu. Misalnya:
Terlalu banyak insulin di dalam tubuh.
Terlambat makan atau tidak makan sama sekali.
Aktivitas fisik terlalu berat tanpa tambahan makanan.
Mengonsumsi alkohol saat perut kosong.
Penyakit tertentu yang mengganggu fungsi hati atau hormon.
Akibatnya, gula darah dapat turun dalam waktu singkat.

Mengapa Gejalanya Muncul Begitu Cepat?
Saat gula darah mulai menurun, tubuh segera mengeluarkan hormon adrenalin sebagai “alarm darurat”. Itulah sebabnya penderita akan mengalami:
gemetar, berkeringat dingin, jantung berdebar, lapar yang sangat hebat, merasa cemas tanpa sebab.

Gejala-gejala ini sebenarnya merupakan peringatan agar seseorang segera makan atau minum yang mengandung gula. Namun bila peringatan ini diabaikan, kadar gula darah akan semakin turun.

Ketika Otak Mulai Kekurangan Energi
Jika gula darah terus menurun, otak tidak lagi memperoleh energi yang cukup. Akibatnya seseorang dapat mengalami: sulit berkonsentrasi, bingung, bicara menjadi pelo, penglihatan kabur, berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, mengantuk berat,
kejang, bahkan tidak sadarkan diri.
Inilah alasan mengapa hipoglikemia termasuk keadaan darurat medis.

Siapa yang Paling Berisiko?
Kelompok yang paling sering mengalami hipoglikemia adalah penderita diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula tertentu.

Namun risiko juga meningkat pada : orang yang sering melewatkan waktu makan, lansia, atlet atau pekerja dengan aktivitas fisik berat, orang yang mengonsumsi alkohol berlebihan dan penderita penyakit hati atau gangguan hormon tertentu.

Apa yang Harus Dilakukan?
Bila penderita masih sadar dan dapat menelan, segera berikan makanan atau minuman manis, misalnya: teh manis, air gula, madu, permen,
atau jus buah.

Setelah itu, berikan makanan yang lebih mengenyangkan seperti nasi, roti, atau biskuit agar kadar gula darah tetap stabil.

Namun bila penderita sudah tidak sadar, jangan memaksa memasukkan makanan atau minuman ke dalam mulut, karena dapat menyebabkan tersedak. Segera bawa ke fasilitas kesehatan atau hubungi layanan darurat.

Jangan Dianggap Masuk Angin
Di masyarakat, gejala hipoglikemia sering disalahartikan sebagai masuk angin, kelelahan, atau tekanan darah rendah. Akibatnya, penanganan menjadi terlambat.

Padahal, bila hipoglikemia berlangsung terlalu lama, sel-sel otak dapat mengalami kerusakan karena kekurangan energi.

Penutup
Hipoglikemia adalah kondisi yang dapat terjadi kapan saja. Kabar baiknya, sebagian besar kasus dapat ditangani dengan cepat apabila gejalanya dikenali sejak awal.

Karena itu, jangan abaikan tanda-tanda seperti gemetar, berkeringat dingin, lapar mendadak, atau tiba-tiba linglung. Tubuh sedang memberi sinyal bahwa kadar gula darah mulai menurun.
Semakin cepat pertolongan diberikan, semakin besar peluang mencegah komplikasi yang lebih berat.

“Kenali gejalanya, bertindak cepat, dan jangan menunggu sampai penderita kehilangan kesadaran.”

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *