Oleh: Ki. Wakijan
Ketua Yayasan Perguruan Tamansiswa Gunungkidul
Allah SWT memanggil orang-orang yang beriman dengan sebuah seruan yang sangat tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Kata kaaffah berarti menyeluruh, utuh, dan totalitas. Islam bukanlah agama yang dijalankan setengah-setengah, hanya dipilih bagian yang sesuai keinginan, lalu meninggalkan bagian lainnya. Islam bukan hanya mengajarkan kita untuk rajin shalat di masjid, tetapi juga melarang berlaku curang di pasar. Islam bukan sekadar memerintahkan puasa di bulan Ramadhan, tetapi juga mengajarkan menjaga lisan dari ghibah, fitnah, dan perkataan yang menyakiti orang lain.
Islam hadir sebagai pedoman hidup yang sempurna. Ia mengatur hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), bahkan mengatur akhlak, keluarga, pekerjaan, ekonomi, hingga kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Lalu, bagaimana agar kita mampu ber-Islam secara kaaffah?
Setidaknya ada tiga pilar utama yang tidak boleh dipisahkan, yaitu Iman, Ilmu, dan Amal.
Pertama: Iman, Fondasi Segala Amal
Iman adalah keyakinan yang tertanam di dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan melalui perbuatan. Iman menjadi pondasi utama seluruh kehidupan seorang muslim. Tanpa iman, amal kebaikan tidak akan bernilai di sisi Allah SWT.
Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Orang yang memiliki iman akan meyakini bahwa hanya Allah-lah pemberi rezeki. Ketika usaha sedang sepi, ia tidak berputus asa. Ketika diuji dengan sakit, ia tetap bersabar. Ketika memperoleh jabatan dan kemuliaan, ia tidak menjadi sombong.
Iman menjadikan seorang muslim mampu mengucapkan dengan penuh keyakinan sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. Al-An’am: 162)
Kedua: Ilmu, Pelita dalam Beribadah
Semangat beribadah saja tidak cukup. Ibadah harus dilandasi ilmu agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Ilmu menjadi cahaya yang membimbing setiap amal agar benar dan diterima oleh Allah SWT. Dalam praktiknya, seorang muslim perlu terus belajar, antara lain:
Mempelajari syarat, rukun, sunnah, dan kekhusyukan shalat.
Memahami hal-hal yang membatalkan puasa serta perkara yang mengurangi pahalanya.
Mengetahui ketentuan zakat, seperti nisab, haul, dan golongan yang berhak menerimanya.
Memahami hukum muamalah, termasuk jual beli, akad, riba, dan etika dalam bertransaksi.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Majelis ilmu, kajian keislaman, membaca Al-Qur’an beserta tafsirnya, dan mempelajari buku-buku agama merupakan jalan untuk memahami Islam secara benar dan utuh.
Ketiga: Amal, Bukti Nyata Keimanan
Iman dan ilmu akan menjadi sempurna apabila diwujudkan dalam amal saleh. Amal adalah buah dari keimanan dan ilmu yang telah dimiliki.
Implementasi amal saleh dapat diwujudkan dalam dua dimensi kehidupan.
Pertama, secara vertikal, yaitu memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an meskipun hanya satu halaman setiap hari, memperbanyak dzikir pagi dan petang, serta membiasakan sedekah secara rutin.
Kedua, secara horizontal, yaitu memperbaiki hubungan dengan sesama manusia melalui kejujuran dalam bekerja, amanah ketika memegang jabatan, bersikap lembut kepada pasangan, anak, keluarga, tetangga, menghormati kedua orang tua, serta peduli terhadap fakir miskin dan mereka yang membutuhkan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Ketika iman, ilmu, dan amal berjalan beriringan, maka Islam akan benar-benar hadir dalam kehidupan. Masjid menjadi makmur, pasar dipenuhi kejujuran dan keberkahan, rumah tangga dipenuhi ketenangan (sakinah), dan tempat kerja menjadi ruang yang penuh amanah serta tanggung jawab.
Muhasabah Diri.
Sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri.
Apakah iman kita benar-benar telah menguatkan hati ketika menghadapi ujian?
Apakah ilmu yang kita miliki telah membimbing ibadah agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW?
Dan apakah amal kita telah menjadi bukti nyata dari keimanan yang kita yakini?
Apabila ketiga unsur tersebut berjalan seiring, insya Allah kita termasuk hamba-hamba yang menjalankan Islam secara kaaffah. Allah SWT berjanji:
“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa: 69)
Semoga Allah SWT meneguhkan hati kita di atas keimanan, memberikan ilmu yang bermanfaat, membimbing kita untuk senantiasa beramal saleh, serta mengistiqamahkan kita dalam menjalankan Islam secara kaaffah hingga akhir hayat.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
