Oleh: Ki. Wakijan
Ketua Yayasan Perguruan Tamansiswa Gunungkidul
“Dari karst yang gersang tumbuh ketangguhan, dan dari budaya yang hidup lahir peradaban.” Itulah wajah Gunungkidul hari ini, sekaligus arah masa depannya.
Gunungkidul sedang bergerak menuju babak baru pembangunan. Jalan Jalur Lintas Selatan telah membuka konektivitas kawasan pesisir. Keberadaan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) semakin mendekatkan Gunungkidul dengan dunia.
Sementara itu, deretan pantai yang membentang dari barat hingga timur terus menjadi magnet wisatawan dari berbagai daerah. Semua ini menjadi pertanda bahwa Gunungkidul tengah dipersiapkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir selatan Pulau Jawa.
Namun, di balik optimisme tersebut, masih tersimpan pekerjaan rumah yang tidak ringan. Lahan karst yang kering masih menjadi tantangan bagi para petani setiap musim kemarau. Persoalan air bersih belum sepenuhnya teratasi. Para nelayan di Baron, Krakal, Sadeng, dan wilayah pesisir lainnya masih harus bergulat dengan cuaca dan gelombang laut yang tidak menentu.
Di sisi lain, para perajin batu alam, anyaman bambu, serta batik khas Gunungkidul mulai menghadapi persaingan yang semakin ketat. Tidak sedikit pula anak muda yang memilih merantau karena merasa kampung halamannya belum mampu memberikan masa depan yang menjanjikan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat mendasar: untuk apa infrastruktur yang megah apabila masyarakatnya belum benar-benar sejahtera dan budayanya perlahan memudar?
Sesungguhnya Gunungkidul memiliki modal pembangunan yang sangat kuat, bahkan tidak dimiliki oleh banyak daerah lain.
Pertama, potensi alam karst dan laut. Kawasan Geopark Gunung Sewu, gua-gua alami, pantai-pantai eksotis, hingga Laut Selatan merupakan kekayaan yang luar biasa. Potensi ini tidak hanya layak dikembangkan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat riset, pendidikan lingkungan, ekowisata, hingga penggerak ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Kedua, potensi pertanian lahan kering. Sorgum, porang, singkong, jagung, serta peternakan kambing dan sapi merupakan identitas ekonomi masyarakat Gunungkidul. Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan dunia, komoditas tersebut justru memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi industri pangan dan produk olahan bernilai tambah.
Ketiga, potensi budaya. Gunungkidul memiliki kekayaan tradisi seperti Gejog Lesung, Jathilan, Larung Sesaji Laut, Rasulan, Padusan, hingga bahasa Jawa dialek Gunungkidul yang lugas dan penuh karakter. Di balik semua itu hidup nilai-nilai gotong royong, kesederhanaan, kerja keras, dan falsafah nrimo ing pandum yang telah menempa masyarakat menjadi pribadi-pribadi yang tangguh menghadapi berbagai keterbatasan.
Sayangnya, selama ini pembangunan sering kali terjebak pada keinginan meniru keberhasilan kota-kota besar. Padahal kekuatan Gunungkidul bukan terletak pada gedung-gedung tinggi atau pusat perbelanjaan modern. Kekuatan sejatinya justru berada pada karakter masyarakatnya, ketangguhan alam karstnya, serta keluhuran budayanya.
Karena itu, budaya harus menjadi poros pembangunan. Tradisi Rasulan maupun Larung Sesaji Laut dapat dikembangkan sebagai pariwisata budaya yang berkualitas. Etos kerja masyarakat pesisir dapat menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia di sektor kelautan dan pariwisata.
Demikian pula kearifan lokal dalam mengelola air di kawasan karst harus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan, bukan justru dilupakan oleh perkembangan zaman.
Sesungguhnya berbagai contoh keberhasilan sudah ada di depan mata. Desa Wisata Nglanggeran, Goa Pindul, Air Terjun Sri Gethuk, Kalisuci, Bobung, hingga berbagai desa wisata lainnya berkembang karena menawarkan keaslian cerita dan identitas Gunungkidul.
Begitu pula kopi, cokelat, teh, porang, serta berbagai produk olahan lokal yang mulai memperoleh tempat di pasar karena membawa narasi tentang ketangguhan masyarakat lahan kering. Dunia tidak membutuhkan Gunungkidul yang meniru daerah lain. Dunia justru mencari Gunungkidul yang autentik.
Oleh karena itu, Dana Keistimewaan DIY dan APBD hendaknya tidak hanya diarahkan untuk pembangunan fisik berupa jalan dan jembatan. Anggaran juga perlu memperkuat irigasi hemat air, pengembangan pertanian lahan kering, pelatihan UMKM berbasis bahan baku lokal, penguatan sanggar seni di setiap kapanewon, serta pendidikan sejarah dan budaya Gunungkidul di sekolah-sekolah.
Kepada generasi muda Gunungkidul, inilah saatnya kembali membangun tanah kelahiran. Banggalah menjadi petani yang mampu mengolah lahan kering secara modern. Banggalah menjadi nelayan, pemandu wisata, pelaku UMKM, maupun wirausahawan kreatif. Jadikan media digital sebagai sarana memperkenalkan Gunungkidul kepada dunia, bukan sekadar alasan untuk meninggalkan kampung halaman.
Membangun peradaban Gunungkidul berarti memastikan air tetap mengalir di tanah karst, laut tetap lestari, pantai tetap bersih, budaya tetap hidup, dan masyarakat memperoleh kesejahteraan di tanahnya sendiri.
Gunungkidul tidak perlu menjadi seperti kota lain. Gunungkidul cukup menjadi dirinya sendiri: daerah yang maju karena alamnya, kuat karena budayanya, dan bermartabat karena masyarakatnya. Sebab dari karst yang mengajarkan ketangguhan, dari laut yang memberi harapan, dan dari budaya yang terus hidup, akan lahir peradaban Gunungkidul yang gemilang.
