Saya terlahir ceprot, bukan di ruang hampa kebudayaan. Saya lahir dan tumbuh di tengah masyarakat yang secara antropologis dapat disebut sebagai keluarga kaum puritan: Muhammadiyah. Tetapi saya beruntung tidak tumbuh dalam ruang yang sepenuhnya letterlijk dalam memahami komunikasi keagamaan.

Guru SD saya, misalnya, adalah seorang Nahdliyin tulen. Maka sejak kecil saya sudah mengalami benturan sekaligus perjumpaan antara tradisi puritan dan tradisi tradisional. Muhammadiyah di satu sisi, NU di sisi yang lain. Benturan itu ternyata tidak selalu melahirkan permusuhan.

Bagi saya, justru dari sanalah lahir sebuah pelajaran sederhana: cara orang lain menjalankan agama tidak selalu harus dipahami sebagai kesalahan hanya karena berbeda dengan cara kita menjalankan agama.

Pengalaman masa kecil itulah yang kemudian ikut mewarnai cara saya memandang orang beragama. Tidak selalu hitam-putih. Tidak selalu an sich.

Syahdan, perjalanan itu kemudian membuat saya tertarik pada pokok-pokok pemikiran Muhammadiyah dan NU. Bahkan saya menemukan istilah yang pernah digunakan Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam kajian tentang kader dan kultur Muhammadiyah: MuNU.

Bagi saya, kemampuan mendayung di antara dua kekuatan sosial-keagamaan itu justru mempertemukan saya dengan suasana ilmiah yang dialektis. Selama nyantri dan kuliah, senjata andalan saya dahulu adalah subjektivitas.

Saya merasa bahwa cara terbaik beragama adalah cara Muhammadiyah. Mungkin, kalau terus dipelihara, sikap semacam itu bisa berubah menjadi mental block: apa pun yang berbeda dari kultur saya dianggap salah. Tetapi saya bersyukur, saya tidak berhenti di sana.

Saya belajar bahwa menjadi subjektif sebagai kader Muhammadiyah tidak harus membuat saya kehilangan objektivitas sebagai seorang warga negara dan sebagai manusia yang hidup bersama orang lain.

Bertemu teman-teman NU, saya tidak harus mentakfiri. Cukup memahami. Cukup mengetahui. Tidak harus menjadi bagian dari mereka.

Yang belum saya lakoni, belum tentu salah. Sesederhana itu.

BERTEMU PROFESOR DOKTOR DUDUNG ABDURRAHMAN

Ada satu pengalaman akademik yang sampai sekarang membekas dalam alam bawah sadar saya: bertemu Prof. Dr. Dudung Abdurrahman di ruang kuliah.

Yang menarik bagi saya bukan sekadar kapasitas akademiknya. Saya melihat seorang kader Muhammadiyah yang mampu menjalani dua dunia sekaligus.

Di ruang privat, beliau tetap seorang kader Muhammadiyah yang berpegang pada tradisi fikih Muhammadiyah. Tetapi ketika memasuki dunia akademik, beliau mampu menempatkan dirinya secara objektif terhadap objek kajian.

Saya kemudian mengetahui ketertarikan beliau pada dunia esoterisme Islam, khususnya tradisi tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah di Suryalaya, Tasikmalaya.

Di sinilah saya mendapatkan pelajaran penting tentang dunia akademik. Seorang peneliti tidak boleh memaksa objek penelitian agar sesuai dengan keyakinan pribadinya. Harus berusaha masuk ke dalam dunia objek yang sedang dipelajarinya.

Dengan kata lain, untuk memahami dunia tarekat, seorang akademisi harus mampu memahami pengalaman batin, bahasa, tradisi, dan struktur pengetahuan para pengikut tarekat tersebut dari dalam.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya harus menjadi pengikut tarekat. Bukan itu. Yang saya tiru dari guru saya adalah sesuatu yang lebih sederhana:

Tetap menjadi Muhammadiyah tanpa harus membatasi diri untuk memahami dunia di luar Muhammadiyah.

Itulah salah satu bentuk kedewasaan intelektual yang saya pelajari.

NASAB DAN DARAH BIRU: SEBUAH LATAR KULTURAL

Ada pula satu bagian lain dari perjalanan hidup saya yang ikut memengaruhi cara saya membaca kebudayaan. Dalam cerita dan silsilah keluarga yang saya terima, garis ayah biologis saya dikaitkan dengan Hamengkubuwono II Yogyakarta, sedangkan garis ibu biologis dikaitkan dengan Mangkunegara I Surakarta.

Saya menyebutnya bukan untuk membangun superioritas genealogis. Sama sekali bukan. Saya justru melihatnya sebagai salah satu kemungkinan penjelasan kultural tentang mengapa saya begitu tertarik pada perjumpaan antara Islam dan kebudayaan Jawa.

Dalam tradisi keraton Jawa, ekspresi keberislaman tidak selalu tampil dalam bentuk fikih yang sangat jurisprudence oriented. Ada wilayah lain yang juga penting: simbol, laku, batin, spiritualitas, dan pencarian makna. Di sinilah saya kemudian mengenal istilah epistemologi ‘irfani.

Kalau bayyani menekankan teks, dalil, bahasa dan penalaran berbasis otoritas teks, maka burhani memberi tempat penting kepada argumentasi rasional dan pembuktian. Sementara ‘irfani bergerak pada wilayah pengalaman batin, intuisi spiritual, dan pengetahuan yang lahir dari penghayatan.

Saya kemudian menyadari bahwa perjalanan hidup saya seperti mempertemukan ketiganya. Kultur kelahiran saya mengajarkan puritanisme. Pendidikan saya memperkenalkan dunia ilmu dan nalar. Sedangkan lingkungan kultural dan sejarah keluarga memperkenalkan saya pada dunia simbolik dan spiritualitas Jawa. Mungkin karena itulah saya selalu merasa tidak nyaman jika kehidupan beragama hanya dipaksa menjadi satu warna.

AKHIRNYA SAYA MENEMUKAN CLUE UNTUK BERSIKAP

Saya akhirnya menemukan satu clue sederhana:

Berbaik sangka kepada orang lain tidak berarti harus menjadi seperti mereka.

Saya bisa berbaik sangka terhadap amaliyah kaum tradisional NU walaupun saya bukan NU. Justru karena bukan NU, saya merasa perlu belajar tentang mereka.

Saya belajar tentang fikih Syafi’i yang banyak menjadi rujukan tradisi keagamaan mereka. Saya belajar tentang Asy’ariyah dalam khazanah akidah mereka. Saya membaca pemikiran Imam al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi yang banyak memberi warna terhadap tradisi spiritual Islam.

Saya sendiri bukan pengamal maulidan dalam keseharian. Tetapi saya merasa nyaman mengetahui kitab-kitab yang mereka baca: Diba’i, Simthuddurar, Ratib al-Haddad, Barzanji dan berbagai khazanah lainnya.

Saya tidak harus mengamalkannya untuk menghargai keberadaannya. Karena memahami bukan berarti mengikuti. Menghormati bukan berarti berpindah identitas. Dan berbeda bukan berarti bermusuhan.

NADA MIRING KAUM PURITAN TERHADAP DUNIA SUFISTIK

Saya memahami bahwa dunia sufistik sering kali dipandang dengan nada curiga oleh sebagian komunitas puritan. Tasawuf, tarekat, ziarah, wirid, dan berbagai tradisi spiritual sering menjadi wilayah yang sensitif dalam perdebatan internal umat Islam.

Tetapi saya menemukan pintu lain untuk memandangnya. Pintu itu bernama sejarah.

Ketika kita membaca sejarah Islam secara lebih luas, kita akan menemukan bahwa para pengamal tarekat bukan hanya manusia yang mengasingkan diri dari dunia.

Sejarah menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, jaringan ulama, santri, dan tarekat juga dapat menjadi kekuatan sosial yang berhadapan dengan kolonialisme.

Di sinilah saya bertemu dengan karya besar Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo tentang Pemberontakan Petani Banten 1888. Karya tersebut bukan sekadar cerita tentang pemberontakan.

Sartono mengkajinya sebagai sebuah gerakan sosial dengan latar ekonomi, politik, keagamaan, dan perubahan sosial yang kompleks. Bahkan struktur bukunya secara khusus membahas The Religious Revival sebelum masuk pada pembahasan gerakan pemberontakan.

Bagi saya, ini menarik. Sebab dunia tarekat yang sering dibayangkan sebagai dunia yang menjauhi hiruk-pikuk dunia ternyata pada konteks sejarah tertentu justru dapat menjadi basis solidaritas dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Saya tidak perlu menjadi pengikut tarekat untuk mengakui fakta sejarah itu. Saya juga tidak perlu mengubah identitas keagamaan saya untuk menghargai mereka.

Mereka mempunyai jalan spiritualnya. Saya mempunyai jalan keberagamaan saya. Tetapi kita dapat bertemu pada satu titik:

penghormatan terhadap manusia, perjuangan, dan sejarah.

Karena itu saya membuat catatan kecil untuk diri sendiri:

Mereka bukan public enemy. Mereka adalah sesama anak bangsa. Bahkan dalam konteks sejarah perjuangan melawan kolonialisme, sebagian dari mereka meninggalkan jejak perjuangan yang patut dipelajari.

Maka tidak sepantasnya saya nyinyir terhadap preferensi keagamaan mereka hanya karena berbeda dengan preferensi saya. Saya tidak harus menjadi pengikut Qadiriyah atau Naqsyabandiyah. Saya cukup mengapresiasi sejarah dan keringat perjuangan mereka.

DIPONEGORO BAGI ALAM BAWAH SADAR SAYA: THE BEST

Lalu sampailah saya kepada satu nama: Pangeran Diponegoro.

Mengapa saya begitu tertarik kepada Diponegoro? Mungkin jawabannya tidak sederhana. Ada unsur sejarah. Ada unsur kebudayaan. Ada unsur agama. Ada unsur keluarga. Dan tentu saja ada unsur subjektivitas saya sendiri.

Diponegoro lahir dari lingkungan elite Kesultanan Yogyakarta. Ia adalah putra Sultan Hamengkubuwono III. Karena itu, secara genealogis dan kultural, ia berada dalam lingkungan inti politik dan kebudayaan Kesultanan Yogyakarta.

Tetapi bagi saya, yang lebih menarik bukan semata-mata darah bangsawannya. Yang menarik adalah pertemuan antara spiritualitas dan perjuangan.

Perang Jawa berlangsung pada 1825–1830.

Dalam membaca Diponegoro, kita tidak cukup hanya menggunakan kacamata politik. Kita perlu melihat bagaimana agama, budaya Jawa, pengalaman spiritual, dan persoalan kolonialisme bertemu dalam kesadaran seorang tokoh.

Babad Diponegoro sendiri merupakan sumber penting untuk memahami bagaimana Diponegoro menarasikan pengalaman hidup dan perjuangannya. Kajian-kajian mengenai Diponegoro juga menunjukkan adanya perjumpaan antara mistisisme Islam dan spiritualitas Jawa dalam narasi perjuangannya.

Di sinilah saya menemukan sebuah paradoks yang menarik. Saya tumbuh dalam kultur yang mengajarkan kehati-hatian terhadap dunia sufistik. Tetapi ketika saya membaca sejarah Diponegoro, saya justru menemukan bagaimana dimensi spiritual dapat menjadi bagian dari kesadaran seorang pejuang.

Apakah itu berarti saya harus menjadi seorang sufi? Tidak.

Apakah saya harus meninggalkan Muhammadiyah? Tidak.

Saya hanya sedang mencoba memahami bahwa sejarah manusia jauh lebih luas daripada batas-batas organisasi keagamaan.

DIPONEGORO DAN DUNIA SPIRITUAL

Saya tertarik pada bagaimana dimensi batin, simbol keagamaan, dan kesadaran spiritual hadir dalam perjalanan Diponegoro.

Ada kajian yang secara khusus membaca perjuangan Diponegoro melalui dialektika mistisisme Islam dan Kejawen, dengan melihat adanya pertemuan antara nilai spiritual Jawa dan mistisisme Islam dalam Babad Diponegoro.

Saya tidak ingin menyederhanakan Diponegoro hanya menjadi seorang tokoh tasawuf. Demikian pula saya tidak ingin menjadikannya semata-mata sebagai tokoh politik.

Dipongoro adalah manusia sejarah dengan kompleksitasnya sendiri yang  hidup dalam persimpangan antara Islam, Jawa, keraton, kolonialisme, politik, spiritualitas, dan perang. Dan justru kompleksitas itulah yang membuat saya tertarik.

Barangkali saya menyukai Diponegoro bukan karena saya ingin menjadikan beliau sebagai simbol kelompok saya. Saya menyukai Diponegoro karena beliau membuat saya sadar bahwa identitas seorang Muslim Jawa tidak selalu dapat dijelaskan dengan satu kotak saja.

LALU, SALAHKAH AKU MENCINTAI DIPONEGORO?

Pertanyaan ini akhirnya kembali kepada judul tulisan:

Salahkah aku mencintai Pangeran Diponegoro?

Saya kira tidak. Mencintai seorang tokoh sejarah tidak berarti mengkultuskannya. Mengagumi perjuangannya tidak berarti menyetujui seluruh keputusan politiknya. Mempelajari spiritualitasnya tidak berarti harus mengikuti seluruh praktik keagamaannya. Dan membaca sejarah tarekat tidak berarti harus menjadi anggota tarekat.

Inilah yang saya sebut sebagai sebuah effort kecil untuk mendamaikan tiga cara memperoleh pengetahuan:

Bayyani.

Saya tetap membutuhkan teks, dalil, dan tradisi keilmuan.

Burhani.

Saya membutuhkan nalar, penelitian, antropologi, sejarah, dan ilmu pengetahuan.

‘Irfani.

Saya juga tidak ingin kehilangan kemampuan manusia untuk memahami dimensi batin, pengalaman spiritual, simbol, dan makna.

Ketiganya tidak harus saling membunuh. Ketiganya dapat saling mengoreksi. Mungkin inilah kedewasaan beragama yang sedang saya cari.

Bukan menjadi orang yang mengatakan: “Hanya jalan saya yang benar.”

Tetapi menjadi orang yang mampu berkata: “Saya meyakini jalan saya, tetapi saya bersedia memahami jalan orang lain.”

Saya tetap Muhammadiyah. Tetapi saya tidak harus membenci NU. Saya tidak menjadi pengikut tarekat. Tetapi saya tidak harus mencibir para pengamal tarekat.

Saya tidak hidup dalam tradisi keraton. Tetapi saya bisa mempelajari kebudayaan keraton. Dan saya tidak hidup pada zaman Diponegoro. Tetapi saya boleh mencintai perjuangannya. Sebab sejarah bukan hanya milik mereka yang hidup pada zamannya. Sejarah juga milik generasi yang datang kemudian untuk mengambil pelajaran.

Dan mungkin, bagi saya pribadi, Pangeran Diponegoro adalah salah satu pintu untuk belajar bahwa Islam dapat dibaca dengan teks, dipahami dengan akal, dan dihayati dengan kedalaman batin—tanpa harus kehilangan sikap kritis.

Kalau begitu, sekali lagi saya bertanya:

Salahkah aku mencintai Pangeran Diponegoro?

Jawaban saya sederhana: Tidak.

Saya hanya sedang mencintai sejarah. Mencintai perjuangan. Mencintai kebudayaan. Dan, barangkali, sedang berusaha memahami Islam dengan hati yang sedikit lebih lapang.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *