Anak-anak muda hari ini tidak lagi selalu duduk manis mendengarkan ceramah selama dua jam. Mereka hidup dalam dunia yang serba cepat. Dua detik pertama sebuah video di TikTok saja bisa menentukan apakah mereka akan terus menonton atau langsung skip.

Menariknya, mereka juga tidak selalu bertanya, “Siapa ustaznya?” Mereka justru lebih sering melihat, “Bagaimana perilakunya? Bagaimana kehidupannya? Apakah yang disampaikan sesuai dengan yang dilakukan?”

Inilah kenyataan zaman yang perlu kita pahami.

Dakwah tidak boleh berhenti dan stagnan. Bukan berarti nilai-nilai Islam harus berubah, tetapi cara menyampaikan nilai-nilai itu perlu menyesuaikan dengan perubahan zaman dan karakter generasi yang menjadi sasaran dakwah.

Kalau sasarannya berubah, strateginya pun perlu berubah.

Dulu, salah satu strategi utama dakwah adalah mimbar. Hari ini, mimbar tetap penting. Tetapi ada strategi lain yang semakin menentukan: keteladanan.

Pertama, Mengapa Harus Berubah?

Generasi Z dan Generasi Alpha tumbuh dalam banjir informasi. Mereka terbiasa mencari, membandingkan, mempertanyakan, dan membentuk kesimpulan sendiri.

Mereka tidak mudah menerima sesuatu hanya karena disampaikan oleh seseorang yang dianggap memiliki otoritas.

Seorang dai bisa hafal seratus dalil. Seorang guru bisa menguasai banyak ayat dan hadis. Orang tua bisa memberikan nasihat setiap hari.

Tetapi ketika perilaku kita bertentangan dengan apa yang kita sampaikan, anak-anak muda akan melihat kontradiksi itu.

Di sinilah keteladanan menjadi sangat penting.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh jauh sebelum istilah influencer, content creator, atau personal branding dikenal manusia. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran Islam dengan kata-kata, tetapi menghidupkan ajaran itu dalam perilaku sehari-hari.

Allah SWT berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Anak muda tidak membutuhkan figur yang seolah-olah sempurna dan tidak pernah salah. Mereka membutuhkan manusia yang jujur dalam berproses.

Mereka ingin melihat bahwa seorang dai, guru, atau orang tua juga terus belajar, berusaha memperbaiki diri, mengakui kesalahan, dan bangkit ketika jatuh.

Keteladanan bukan tentang menunjukkan bahwa kita sudah sempurna. Keteladanan adalah menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh berusaha hidup sesuai dengan nilai yang kita ajarkan.

Kedua, Dari Ceramah Menuju Koneksi

Dulu, dakwah lebih banyak berlangsung satu arah: ustaz berbicara, jamaah mendengarkan.

Sekarang, ruang dakwah menjadi jauh lebih luas. Ada percakapan, diskusi, komentar, pesan langsung (direct message), podcast, video pendek, hingga pertemuan informal.

Karena itu, dakwah kepada generasi muda tidak cukup hanya dengan berbicara kepada mereka. Kita perlu berbicara bersama mereka.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat kuat dalam membangun hubungan dengan manusia.

Beliau mengenal orang-orang di sekitarnya, memanggil mereka dengan cara yang baik, memahami keadaan mereka, mendengarkan persoalan mereka, dan hadir ketika mereka membutuhkan.

Al-Qur’an memberikan prinsip dakwah:“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ada kata penting dalam ayat tersebut: hikmah.

Hikmah berarti kebijaksanaan dalam menyampaikan sesuatu, termasuk memahami kondisi, kemampuan, dan karakter orang yang menjadi sasaran dakwah.

Karena itu, kepada anak muda, jangan selalu menggunakan “bahasa mimbar”. Gunakan pula bahasa yang mereka pahami. Bisa melalui meme, podcast, vlog, video pendek, diskusi, kegiatan kreatif, atau sekadar ngopi dan berbincang bersama.

Medianya boleh berubah.

Tujuannya tetap sama: mendekatkan manusia kepada kebaikan dan nilai-nilai Islam.

Dakwah bukan sekadar membuat orang takut kepada agama. Dakwah juga harus membuat mereka merasakan bahwa Islam dekat dengan kehidupan mereka, menjawab kegelisahan mereka, dan menghadirkan ketenangan dalam perjalanan hidup mereka.

Ketiga, Keteladanan di Dunia Nyata dan Dunia Maya

Keteladanan pada zaman sekarang memiliki dua ruang: dunia nyata dan dunia maya.

Di dunia nyata, anak muda melihat bagaimana kita menjalankan salat, bagaimana kita memperlakukan orang tua, bagaimana kita berbicara kepada orang yang berbeda pendapat, bagaimana kita berdagang, bekerja, memegang amanah, dan memperlakukan orang yang lebih lemah.

Namun keteladanan juga berlangsung di dunia maya. Apa yang kita bagikan. Apa yang kita komentari. Bagaimana kita berbicara ketika berbeda pendapat. Bagaimana kita memperlakukan orang lain ketika berada di balik layar. Semua itu juga bagian dari akhlak.

Allah SWT mengingatkan:“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)

Sebuah komentar dakwah mungkin dapat kita hapus. Sebuah unggahan mungkin dapat kita tarik kembali. Tetapi jejak perilaku buruk dapat meninggalkan kesan yang jauh lebih panjang. Anak muda bisa saja tidak meninggalkan seorang dai karena kontennya kurang menarik.

Tetapi mereka dapat menjauh ketika menemukan ketidaksesuaian antara apa yang disampaikan dengan bagaimana orang tersebut menjalani kehidupannya.

Karena itu, sebelum bertanya, “Mengapa mereka tidak mendengarkan dakwah kita?”, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah kehidupan kita sudah menjadi dakwah?”

Keempat, Jadilah Kakak dan Teman, Bukan Hakim

Generasi muda sedang berada dalam perjalanan mencari jati diri. Mereka memiliki banyak pertanyaan. Mereka menghadapi tekanan. Mereka mengalami kegagalan.Mereka mungkin memiliki persoalan keluarga, pertemanan, pendidikan, pekerjaan, bahkan pergulatan batin yang tidak selalu mereka ceritakan kepada orang dewasa.

Dalam kondisi seperti itu, mereka tidak selalu membutuhkan orang yang langsung menghakimi. Kadang-kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Bukan kalimat:

“Kamu sesat.”

Tetapi:

“Sini, cerita. Apa yang sedang kamu hadapi?”

Rasulullah SAW bersabda:

“Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari)

Pesan ini sangat relevan dalam dakwah kepada generasi muda. Jadilah kakak yang bisa diajak curhat. Jadilah guru yang bisa dipercaya. Jadilah mentor yang bisa diajak berdiskusi. Jadilah teman yang bisa menemani proses hijrah, bukan orang yang hanya menunjukkan kesalahan ketika seseorang belum mampu menjadi seperti yang kita harapkan.

Sebab nasihat yang disampaikan setelah kepercayaan terbangun akan lebih mudah masuk ke hati. Hubungan terlebih dahulu, kemudian nasihat. Bukan sebaliknya.

Mimbar Tetap Penting, Tetapi Hidup Kita Adalah Mimbar yang Lebih Panjang

Wahai para dai, para guru, dan para orang tua…Mimbar tetap penting. Ceramah tetap penting. Kajian tetap penting. Media sosial juga penting.

Tetapi di atas semuanya, ada satu media dakwah yang tidak pernah kehilangan relevansinya: keteladanan.

Anak-anak muda akan melihat bagaimana kita menjalani kehidupan. Mereka akan melihat apakah agama membuat seseorang menjadi lebih jujur, lebih rendah hati, lebih penyayang, lebih adil, dan lebih menghormati sesama.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Mengapa anak muda semakin jauh dari masjid?”

Mari kita bertanya lebih dahulu:

“Sudahkah masjid dan kita menjadi tempat yang nyaman bagi mereka?”

Sudahkah mereka merasa diterima ketika datang?

Sudahkah mereka berani bertanya tanpa takut dihakimi?

Sudahkah mereka menemukan orang dewasa yang mau mendengarkan?

Dan yang paling penting, sudahkah mereka melihat bahwa nilai-nilai agama benar-benar hidup dalam diri kita?

Sebab dakwah yang paling kuat tidak selalu dakwah yang paling viral.

Dakwah yang paling kuat bisa jadi adalah dakwah yang berlangsung diam-diam, melalui perilaku sehari-hari, sampai suatu ketika seorang anak muda berkata:

“Aku ingin menjadi seperti dia.”

Saat kalimat itu muncul, mungkin saat itulah dakwah telah menemukan bentuknya yang paling nyata.

Bukan hanya dari mimbar menuju telinga. Tetapi dari keteladanan menuju hati.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *