JogjaLima – Bagi sebagian orang, minum kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Secangkir kopi pada pagi atau sore hari dapat membantu mengurangi rasa kantuk dan membuat tubuh terasa lebih segar.
Namun, ada pula orang yang justru merasakan jantung berdebar setelah minum kopi. Detak jantung terasa lebih cepat atau lebih kuat, dada seperti berdegup, bahkan terkadang disertai rasa gelisah dan tangan gemetar.
Apakah kondisi tersebut berbahaya? Kafein memang dapat memengaruhi tubuh. Salah satu penyebab munculnya sensasi jantung berdebar setelah minum kopi adalah kafein.
Kafein merupakan zat stimulan yang dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf. Pada sebagian orang, efek tersebut dapat menimbulkan rasa lebih waspada, gelisah, tremor, dan perubahan sementara pada respons kardiovaskular.
Penelitian mengenai efek kafein terhadap jantung menunjukkan bahwa respons setiap orang tidak selalu sama. Faktor seperti kebiasaan mengonsumsi kafein, sensitivitas individu, kondisi kesehatan dan dosis yang dikonsumsi dapat memengaruhi respons tubuh.
Karena itu, seseorang bisa merasa jantungnya berdebar setelah satu cangkir kopi, sementara orang lain tidak merasakan keluhan yang sama.
Jantung terasa berdebar belum tentu berarti aritmia.
Ini bagian yang penting.
Sensasi palpitasi atau jantung berdebar tidak selalu berarti jantung mengalami gangguan irama. Seseorang dapat merasakan detak jantungnya lebih kuat atau lebih cepat tanpa adanya aritmia yang berbahaya.
Bahkan, sebuah meta-analisis terhadap uji klinis teracak yang diterbitkan pada 2024 menemukan bahwa konsumsi kopi 3–6 cangkir sehari selama 2–24 minggu tidak memberikan perubahan bermakna secara statistik terhadap denyut jantung istirahat.
Dengan demikian, tidak tepat jika setiap keluhan jantung berdebar setelah minum kopi langsung dianggap sebagai tanda penyakit jantung.
Lalu, mengapa ada orang yang merasa berdebar?
Ada beberapa kemungkinan.
Pertama, seseorang mungkin memang lebih sensitif terhadap kafein. Kedua, kopi dikonsumsi dalam jumlah cukup banyak atau dalam waktu yang berdekatan dengan sumber kafein lainnya.
Ketiga, kondisi tubuh juga berpengaruh. Kurang tidur, stres, kecemasan, kelelahan, merokok atau konsumsi minuman berkafein lainnya dapat membuat seseorang lebih mudah merasakan perubahan denyut jantung.
FDA menyebutkan bahwa sensitivitas terhadap kafein dan kemampuan tubuh menghilangkan kafein sangat bervariasi antarindividu.
Berapa banyak kafein yang masih dianggap wajar?
Untuk sebagian besar orang dewasa sehat, FDA menyebut 400 miligram kafein per hari sebagai jumlah yang secara umum tidak dikaitkan dengan efek negatif. Jumlah tersebut kira-kira setara dengan 2–3 cangkir kopi berukuran 12 fluid ounces, tetapi kandungan kafein sebenarnya sangat bervariasi tergantung jenis dan ukuran minuman.
Angka 400 miligram bukan berarti setiap orang harus atau boleh mengonsumsi sebanyak itu. Orang yang sensitif terhadap kafein mungkin sudah merasakan efek tidak nyaman pada jumlah yang jauh lebih rendah. Karena itu, batas toleransi tubuh masing-masing orang tetap perlu diperhatikan.
Apakah kopi menyebabkan gangguan irama jantung?
Bukti ilmiahnya justru lebih kompleks daripada anggapan bahwa kopi pasti “merusak irama jantung”. Tinjauan ilmiah mengenai kopi dan aritmia menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah moderat pada umumnya tidak terbukti meningkatkan risiko aritmia pada populasi secara keseluruhan.
Pedoman American College of Cardiology dan American Heart Association mengenai fibrilasi atrium juga menyebutkan bahwa konsumsi kafein dalam batas normal pada umumnya tidak menunjukkan peningkatan risiko fibrilasi atrium. Walaupun sebagian pasien merasa kafein menjadi pemicu keluhan, data objektif tidak secara konsisten mendukung anggapan tersebut.
Artinya, kopi tidak otomatis menjadi penyebab gangguan irama jantung.
Namun, apabila seseorang secara konsisten mengalami keluhan setelah minum kopi, mengurangi konsumsi kafein tetap merupakan langkah yang masuk akal untuk mengetahui apakah keluhan tersebut berkurang.
Jangan abaikan tanda bahaya.
Meski jantung berdebar dapat berkaitan dengan kafein, jangan menganggap semua keluhan sebagai efek kopi.
Segera mencari pertolongan medis apabila jantung berdebar disertai:
nyeri atau tekanan di dada, sesak napas, pusing berat, hampir pingsan atau pingsan, detak jantung sangat cepat atau tidak teratur yang menetap, atau keluhan yang semakin berat.
Pemeriksaan dokter juga penting apabila jantung berdebar sering berulang, terjadi ketika seseorang tidak mengonsumsi kopi, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi tertentu, dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan seperti elektrokardiogram (EKG) untuk mengetahui apakah terdapat gangguan irama jantung.
Tidak perlu takut kopi, tetapi kenali respons tubuh
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara kopi, kafein dan kesehatan jantung tidak sesederhana “kopi baik” atau “kopi buruk”.
Sebuah systematic review dan meta-analysis terbaru yang diterbitkan pada 2026, yang menganalisis 38 penelitian dengan sekitar 2,86 juta peserta, menemukan bahwa hubungan kopi dengan berbagai penyakit kardiovaskular sangat bervariasi menurut jenis penyakit dan jumlah konsumsi.
Analisis tersebut juga tidak menemukan peningkatan risiko aritmia secara keseluruhan pada konsumsi kopi yang lebih tinggi.
Jadi, bagi orang dewasa sehat yang dapat mentoleransi kafein, kopi dalam jumlah wajar umumnya bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Tetapi jika setiap kali minum kopi jantung terasa berdebar, tubuh mungkin sedang memberi sinyal bahwa jumlah kafein perlu dikurangi.
Yang paling penting bukan sekadar berapa banyak kopi yang diminum, tetapi bagaimana tubuh meresponsnya.
Secangkir kopi boleh menjadi teman untuk memulai hari. Namun, ketika jantung mulai berdebar, dengarkan sinyal tubuh dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter apabila keluhan menetap atau disertai tanda bahaya.
