JogjaLima – Jalan kaki bukan sekadar aktivitas fisik. Pada usia lanjut, kemampuan mempertahankan langkah yang cepat ternyata dapat menjadi salah satu tanda bahwa otak masih menua dengan sehat.
Selama ini kita mengenal istilah “SuperAgers”, yaitu orang lanjut usia yang memiliki daya ingat dan kemampuan kognitif luar biasa baik dibandingkan kelompok seusianya. Kini para peneliti mulai memperhatikan kelompok lain yang disebut “Super Movers”—orang berusia 80 tahun ke atas yang mampu berjalan jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata orang seusianya.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurology pada 14 Juli 2026 menemukan bahwa orang lanjut usia yang memiliki kecepatan berjalan jauh di atas rata-rata memiliki risiko mengalami gangguan kognitif sekitar setengah lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak termasuk kelompok super movers.
Jalan kaki ternyata melibatkan banyak bagian otak
Menurut Dr. Leana Wen, dokter kedokteran darurat dan profesor klinis di George Washington University, berjalan kaki tampak sebagai aktivitas sederhana karena manusia melakukannya hampir secara otomatis.
Namun sebenarnya berjalan merupakan aktivitas yang cukup kompleks.
Ketika seseorang berjalan, otak harus mengoordinasikan otot dan saraf sekaligus memproses berbagai informasi, seperti keseimbangan, penglihatan, kondisi permukaan jalan dan lingkungan sekitar.
Bayangkan seseorang berjalan di trotoar yang ramai. Ia harus menjaga keseimbangan, menghindari orang lain, memperhatikan kendaraan, menyesuaikan kecepatan dan menentukan arah. Semua aktivitas tersebut membutuhkan kerja sama berbagai bagian otak.
Karena itu, kemampuan mempertahankan kecepatan berjalan pada usia lanjut dapat menjadi salah satu gambaran mengenai seberapa baik fungsi tubuh dan otak seseorang dipertahankan.
Tetapi berjalan cepat bukan berarti pasti mencegah demensia
Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan.
Penelitian tersebut menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat.
Artinya, penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa berjalan lebih cepat secara langsung menyebabkan seseorang terhindar dari gangguan kognitif.
Orang yang mampu berjalan cepat pada usia 80 tahun mungkin memang memiliki gaya hidup yang lebih aktif sejak usia muda. Mereka juga mungkin memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik, pola makan yang lebih sehat, lebih sedikit penyakit kronis, dukungan sosial yang lebih kuat atau faktor genetik tertentu.
Sebaliknya, bisa juga terjadi kondisi yang berlawanan: orang yang otaknya menua dengan lebih sehat mungkin lebih mampu mempertahankan kemampuan berjalan cepat.
Karena itu, kecepatan berjalan lebih tepat dipandang sebagai salah satu kemungkinan penanda kesehatan fisik dan kesehatan otak, bukan sebagai ukuran tunggal untuk memprediksi demensia.
Kabar baiknya: kebugaran masih bisa ditingkatkan pada usia lanjut
Bagi mereka yang merasa kemampuan fisiknya mulai menurun, kabar baiknya adalah kebugaran tubuh masih dapat ditingkatkan meskipun seseorang sudah memasuki usia lanjut.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian orang berusia 65 tahun ke atas masih mampu mengalami peningkatan fungsi fisik maupun kognitif selama masa pemantauan.
Tidak perlu langsung melakukan olahraga berat.
Orang yang sebelumnya jarang bergerak dapat memulainya dengan berjalan kaki sebentar di sekitar rumah. Setelah tubuh terbiasa, durasi dan frekuensinya dapat ditingkatkan secara bertahap.
Bagi yang sudah rutin berjalan selama 30 menit, misalnya, dapat mencoba berjalan dengan kecepatan biasa selama beberapa menit, kemudian mempercepat langkah selama satu atau dua menit sebelum kembali ke kecepatan normal.
Interval berjalan cepat tersebut kemudian dapat ditambah secara perlahan. Berjalan di medan menanjak juga dapat menjadi cara untuk meningkatkan tantangan fisik.
Prinsipnya sederhana: dari tidak bergerak menjadi sedikit lebih aktif sudah memberikan manfaat. Jika kecepatan berjalan tiba-tiba menurun, jangan diabaikan
Bagaimana jika seseorang yang sebelumnya mampu berjalan dengan baik kemudian mengalami perlambatan yang cukup signifikan?
Perlambatan berjalan memang dapat terjadi sebagai bagian dari proses penuaan. Namun, perubahan yang cukup nyata, terutama jika terjadi dalam waktu relatif cepat atau disertai gejala lain, sebaiknya tidak diabaikan.
Ada banyak kemungkinan penyebabnya, mulai dari radang atau pengapuran sendi, nyeri punggung, berkurangnya kekuatan otot, efek samping obat, gangguan saraf hingga gangguan penglihatan dan keseimbangan.
Karena itu, penurunan kemampuan berjalan yang cukup besar atau tidak jelas penyebabnya sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui apakah terdapat masalah yang masih dapat diperbaiki.
Bukan hanya berjalan
Berjalan kaki memang merupakan salah satu bentuk olahraga yang sangat baik. Namun, kesehatan otak dan tubuh tidak hanya bergantung pada berjalan.
Aktivitas aerobik lain seperti bersepeda dan berenang juga dapat membantu meningkatkan kebugaran jantung dan paru-paru. Olahraga yang menggabungkan aktivitas fisik dan interaksi sosial juga dapat memberikan manfaat tambahan.
Latihan kekuatan juga menjadi semakin penting seiring bertambahnya usia. Mempertahankan massa dan kekuatan otot membantu seseorang tetap mampu bergerak secara mandiri dan mengurangi risiko kehilangan kemandirian.
Latihan keseimbangan juga penting untuk membantu menurunkan risiko jatuh. Selain aktivitas fisik, kesehatan otak juga berkaitan erat dengan kesehatan pembuluh darah. Karena itu, tekanan darah tinggi, kolesterol dan diabetes perlu dikendalikan.
Berhenti merokok, mengonsumsi makanan yang lebih banyak mengandung sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan dan makanan yang minim proses juga merupakan bagian dari gaya hidup sehat.
Tidur yang cukup tidak kalah penting.
Dan yang sering terlupakan, otak juga perlu terus digunakan. Memelihara hubungan dengan keluarga dan teman, menjalankan hobi, mempelajari keterampilan baru serta tetap aktif secara sosial dan mental dapat membantu menjaga tubuh dan otak tetap aktif.
Bergerak untuk menjaga otak
Temuan tentang super movers memberikan pesan sederhana: kemampuan bergerak dengan baik pada usia lanjut mungkin bukan hanya persoalan kaki dan otot.
Cara seseorang berjalan dapat mencerminkan bagaimana tubuh dan otaknya tetap bekerja secara keseluruhan. Namun, tidak perlu menunggu sampai berusia 80 tahun untuk mulai bergerak.
Kebiasaan berjalan, latihan kekuatan, menjaga keseimbangan, mengendalikan faktor risiko penyakit dan tetap aktif secara sosial dapat dimulai sejak sekarang.
Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan otak mungkin tidak hanya dilakukan dengan membaca atau melatih daya ingat, tetapi juga dengan memastikan tubuh tetap mau dan mampu bergerak.
Catatan: Artikel ini bersifat informasi kesehatan dan bukan pengganti diagnosis atau nasihat medis individual.
