Dalam dunia sepak bola, khususnya di Spanyol, ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal: “Hay que saber sufrir”, yang berarti “Kita harus tahu bagaimana menghadapi penderitaan.”
Dan malam ini, saya benar-benar merasakan penderitaan itu.

Izinkan saya sedikit bercerita tentang bagaimana rasanya menjadi pendukung tim sendiri. Ketika kiper Belgia, Thibaut Courtois, harus keluar lapangan karena cedera pada menit ke-71, bukannya berpikir, “Kesempatan Spanyol menang kini semakin besar,” justru yang terlintas di benak saya adalah, “Mungkin dewa-dewa sepak bola menganggap kami belum pantas menang malam ini.”

Semakin pertandingan mendekati akhir dan peluang berlanjut ke babak perpanjangan waktu semakin besar, saya hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangan. Hingga akhirnya muncul sebuah serangan yang tampaknya hanya menjadi percobaan sia-sia dari seorang pemain yang bahkan bukan penyerang.

Namun kali ini berbeda.
Tangkapan kiper Belgia, Senne Lammens, tidak sempurna. Bola terlepas dari tangannya dan jatuh tepat di hadapan Mikel Merino, yang sekali lagi menjadi penyelamat Spanyol dengan mencetak gol kemenangan.

Semua itu mengingatkan bahwa sepak bola tidak pernah berjalan sesuai logika.
Anda bisa menjadi tim favorit. Anda bisa bermain jauh lebih baik. Keberuntungan juga bisa berpihak kepada Anda.

Namun satu kesalahan kecil saja dapat mengubah segalanya. Sebuah pertandingan yang tampak sudah dalam genggaman bisa kembali menjadi imbang. Terkadang semua usaha terasa tidak berjalan sebagaimana mestinya hingga pertandingan berubah menjadi ujian mental yang menyiksa.

Pada saat-saat seperti itulah, “hay que saber sufrir”—kita harus tahu bagaimana bertahan dalam penderitaan.

Belgia harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia, sekaligus menutup kisah “Generasi Emas” yang selama bertahun-tahun menjadi kebanggaan negeri itu.

The Red Devils layak mendapat penghormatan atas perjuangan mereka. Sesuai julukannya, mereka bertarung habis-habisan dan nyaris membuat penderitaan itu berbuah kemenangan.
Hormat untuk Belgia.

Namun La Roja juga memahami arti sebuah perjuangan.
Sebelum pertandingan, penyerang Mikel Oyarzabal mengatakan:
Apa pun situasinya, baik ketika pertandingan berjalan baik maupun buruk, siapa pun yang bermain, tim ini selalu mampu memberikan respons. Menurut saya, itulah yang paling penting.”

Perjalanan Spanyol di Piala Dunia kali ini memang penuh warna.

Ada pertandingan yang mereka menangi dengan sangat meyakinkan melalui permainan indah dan banyak gol, seperti saat menghadapi Arab Saudi dan Austria.

Ada pula laga yang berlangsung keras dan melelahkan, tetapi tetap mampu mereka lewati, seperti melawan Uruguay.

Bahkan ada pertandingan ketika seolah tidak ada satu pun rencana yang berjalan dengan baik, seperti saat menghadapi Tanjung Verde.

Dan ada pula laga di mana semuanya tampak buntu hingga akhirnya keajaiban datang di menit-menit terakhir, seperti ketika menghadapi Portugal dan kini Belgia.

Melalui semua itu, La Roja belajar bagaimana menderita demi mencapai semifinal.

Kini tantangan yang jauh lebih besar telah menanti.
Di semifinal, Spanyol akan berhadapan dengan tim yang saat ini dianggap sebagai kekuatan paling menakutkan di turnamen: Prancis.

Percayalah, pertandingan di AT&T Stadium nanti akan menghadirkan penderitaan yang jauh lebih besar bagi kedua kubu.

Saya tetap akan merasakan ketegangan itu, meskipun menganggap Spanyol bukanlah favorit dalam laga tersebut.

Namun justru itulah indahnya sepak bola.
Kita menerima suka dan duka dalam satu paket. Dan terkadang, setelah melalui begitu banyak penderitaan, keajaiban benar-benar datang.
Kadang-kadang, negara Anda hanya perlu menderita sedikit lebih sedikit daripada lawannya.
Dan itu sudah cukup untuk mengantarkan mereka menuju final Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *