Oleh : Anton Supriyadi, ST

Setiap tahun umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha dengan menyembelih hewan qurban. Kambing, sapi, atau unta disembelih sebagai bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Namun sesungguhnya, qurban bukan hanya tentang darah dan daging. Ada makna yang jauh lebih dalam.

Qurban adalah proses menyembelih sifat-sifat hewani yang hidup dalam diri manusia. Sebab manusia tidak hanya memiliki akal dan hati, tetapi juga memiliki hawa nafsu. Ketika nafsu menguasai manusia, maka sifat-sifat hewan bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Kadang manusia bisa: rakus seperti serigala, marah seperti banteng liar, licik seperti ular, sombong seperti merak dan buas terhadap sesama demi kepentingan pribadi. Karena itulah qurban menjadi simbol perjuangan batin, bukan sekadar memotong leher hewan, tetapi memotong ego, keserakahan, dan hawa nafsu yang berlebihan.

Baca Juga : Makna Qurban : Jejak Pengorbanan Para Nabi dan Jalan Ketakwaan

Makna qurban tidak bisa dilepaskan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri, sesungguhnya Allah bukan menginginkan darah Ismail. Allah ingin menguji keikhlasan, ketaatan, dan ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya.

Al-Qur’an mengabadikan peristiwa itu : “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Dan ketika keduanya telah berserah diri, Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar.

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 107)

Dari kisah itu manusia belajar, yang paling berat untuk dikorbankan bukanlah harta, tetapi ego dan kecintaan dunia yang berlebihan.

Hakikat qurban dijelaskan secara sangat indah dalam Al-Qur’an: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menegaskan, Allah tidak membutuhkan darah hewan qurban. Yang Allah nilai adalah hati, ketulusan, dan ketakwaan manusia. Karena itu, orang yang berqurban seharusnya juga berusaha: menyembelih kesombongan, membunuh sifat rakus, menghilangkan iri dengki, dan mengendalikan hawa nafsu.

Di zaman sekarang, sifat hewani sering muncul dalam bentuk yang lebih halus : fitnah demi kekuasaan, menghalalkan segala cara, tamak terhadap jabatan, dan tidak peduli penderitaan orang lain.  Secara fisik manusia terlihat modern, berpendidikan, bahkan religius. Tetapi bila hatinya dikuasai hawa nafsu, maka sifat hewani itu sebenarnya masih hidup.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahwa manusia bisa lebih sesat daripada hewan ketika tidak menggunakan akal dan hati nuraninya. “Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.” (QS. Al-A’raf: 179). Karena hewan hanya mengikuti naluri. Tetapi manusia diberi akal dan petunjuk.

Qurban mengajarkan manusia agar mengendalikan hawa nafsu, belajar ikhlas, berbagi kepada sesama, dan membersihkan hati dari cinta dunia berlebihan.

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan kemuliaan ibadah qurban: “Tidak ada suatu amalan yang dilakukan manusia pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban).” (HR. Tirmidzi)

Namun ibadah qurban tidak boleh berhenti pada ritual penyembelihan saja. Spirit qurban harus melahirkan perubahan akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan : musuh terbesar manusia sebenarnya bukan orang lain, tetapi hawa nafsunya sendiri.

Setiap tetes darah hewan qurban sejatinya adalah pengingat
bahwa manusia harus membunuh sifat kebinatangan dalam dirinya agar kembali menjadi manusia yang bertakwa. Karena pada akhirnya, qurban bukan sekadar menyembelih hewan.

Tetapi tentang manusia yang sedang belajar menyembelih ego, keserakahan, kesombongan, dan hawa nafsunya sendiri demi mendekat kepada Allah SWT.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *