JogjaLima— Pemilihan Lurah Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, Gunungkidul, mempertemukan dua calon dengan latar belakang dan modal politik yang berbeda.

Calon nomor urut 1, Sunardi, merupakan pendatang baru dalam kontestasi pemilihan lurah. Sementara calon nomor urut 2, Suhardi, merupakan incumbent yang kembali maju untuk ketiga kalinya.

Pertarungan ini menarik bukan semata karena hanya diikuti dua calon. Lebih dari itu, masyarakat Logandeng dihadapkan pada dua pilihan yang memiliki karakter berbeda: memilih pemimpin yang rekam jejak kepemimpinannya sudah diketahui, atau memberikan kesempatan kepada figur baru yang menawarkan harapan perubahan.

Suhardi dan Keuntungan Rekam Jejak
Sebagai incumbent, Suhardi memiliki satu modal yang tidak dimiliki calon baru: masyarakat sudah mengenal dirinya. Selama memimpin Kalurahan Logandeng, masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana cara Suhardi menjalankan pemerintahan, berkomunikasi dengan warga, mengambil keputusan, merespons persoalan masyarakat, serta sejauh mana kepedulian dan keberpihakannya kepada warga.

Ini menjadi keuntungan tersendiri.
Pemilih tidak sepenuhnya harus menerka-nerka seperti apa sosok Suhardi apabila kembali dipercaya memimpin. Mereka memiliki pengalaman untuk dijadikan dasar penilaian.

Namun, modal tersebut juga sekaligus menjadi tantangan.
Karena sudah dua periode memimpin dan kini maju untuk ketiga kalinya, seluruh rekam jejak Suhardi akan menjadi bagian dari penilaian masyarakat.

Keberhasilan menjadi modal untuk meminta kepercayaan kembali. Tetapi kekurangan dan persoalan selama kepemimpinan juga dapat menjadi bahan kritik dan amunisi politik bagi lawannya.

Dengan demikian, incumbent tidak hanya dituntut menunjukkan keberhasilan, tetapi juga harus siap mempertanggungjawabkan kekurangan yang mungkin dinilai masyarakat masih ada. Di tengah kontestasi itu, salah satu pesan yang berpotensi dikedepankan incumbent adalah soal pentingnya masyarakat mengenali calon yang akan dipilih.

Jangan membeli kucing dalam karung.
Pesan tersebut sederhana, tetapi memiliki makna politik yang cukup kuat: masyarakat sudah mengetahui bagaimana seorang incumbent bekerja dan memimpin, sementara calon baru masih harus membuktikan dirinya.

Sunardi dan Tantangan sebagai Wajah Baru
Di sisi lain, Sunardi datang dengan modal yang berbeda.
Sebagai calon baru, ia tidak membawa rekam jejak sebagai lurah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat Logandeng. Posisi tersebut dapat menjadi keuntungan karena Sunardi dapat tampil sebagai figur yang menawarkan sesuatu yang baru.

Tidak ada beban pengalaman sebagai kepala pemerintahan kalurahan sebelumnya. Namun, justru di situlah tantangannya.
Seberapa jauh masyarakat sudah mengenal Sunardi?
Seberapa jauh masyarakat mengetahui kemampuan, karakter, pola komunikasi dan cara kerjanya?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik karena Sunardi merupakan pensiunan PNS.

Pengalaman sebagai PNS tentu dapat menjadi modal dalam memahami birokrasi dan pemerintahan. Tetapi pengalaman birokrasi belum tentu secara otomatis identik dengan kemampuan memimpin masyarakat di tingkat kalurahan.

Karena itu, rekam jejak Sunardi ketika masih menjadi PNS juga berpotensi menjadi bagian dari penilaian masyarakat.
Bagaimana cara dia bekerja?
Bagaimana ia berkomunikasi?
Bagaimana menghadapi persoalan dan tekanan?
Bagaimana mengambil keputusan?

Dan yang paling penting, seperti apa karakter kepemimpinannya?
Semua itu menjadi pertanyaan yang harus dijawab bukan sekadar melalui kampanye, tetapi melalui rekam jejak yang dapat diketahui dan dinilai masyarakat.

Dua Modal Politik yang Berbeda
Jika dilihat secara lebih luas, kontestasi Logandeng sebenarnya mempertemukan dua jenis modal politik.
Suhardi memiliki modal pengalaman dan rekam jejak.
Sunardi memiliki modal sebagai figur baru dan harapan perubahan.
Keduanya memiliki kelebihan sekaligus kelemahan.

Suhardi sudah dikenal. Tetapi karena sudah dikenal, kekurangan selama memimpin juga tidak mudah disembunyikan.
Sunardi belum memiliki pengalaman memimpin Kalurahan Logandeng. Tetapi karena merupakan wajah baru, ia juga belum memiliki beban persoalan pemerintahan kalurahan sebelumnya.

Di sinilah masyarakat Logandeng dituntut untuk tidak hanya melihat siapa yang paling menarik dalam menyampaikan visi dan janji.
Pemilih dapat membandingkan apa yang sudah dilakukan dengan apa yang ditawarkan.

Jangan Hanya Memilih karena Familiar atau Bosan
Dalam pemilihan langsung, faktor kedekatan dan popularitas tentu dapat memengaruhi pilihan. Tetapi untuk menentukan pemimpin kalurahan, masyarakat memiliki kepentingan yang jauh lebih besar.

Lurah akan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat. Mulai dari pelayanan publik, pembangunan, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan anggaran, hingga hubungan pemerintahan kalurahan dengan masyarakat.

Karena itu, pilihan idealnya bukan semata-mata karena sudah kenal atau karena ingin sesuatu yang baru.
Incumbent perlu diuji dengan pertanyaan: apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah?

Sementara calon baru perlu diuji dengan pertanyaan: apa yang membuat masyarakat yakin bahwa ia mampu melakukan lebih baik?
Pada akhirnya, masyarakat Logandeng tidak hanya memilih antara nomor urut 1 dan nomor urut 2.

Mereka sedang memilih antara rekam jejak dan harapan perubahan.
Suhardi datang dengan pengalaman memimpin yang sudah dapat dinilai.
Sunardi datang dengan pengalaman sebagai birokrat dan kesempatan untuk menawarkan perspektif baru.
Siapa yang lebih meyakinkan?

Jawabannya bukan berada pada slogan kampanye, melainkan pada penilaian masyarakat Logandeng terhadap rekam jejak, karakter, kapasitas dan visi kedua calon. Dan pada hari pemilihan nanti, masyarakatlah yang akan memberikan jawaban.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *