Pertemuan Musa AS versus Fir’aun selalu memorable.
Terlebih ketika Indonesia sedang dipimpin oleh sosok yang dianggap zalim, kisah Musa AS dan Fir’aun sering kembali menjadi bahan penghiburan spiritual masyarakat akar rumput.
Ada harapan agar pemimpin yang zalim suatu saat di-Fir’aun-kan oleh Allah SWT : kekuasaannya ditenggelamkan, rezimnya dihancurkan, dan kesewenang-wenangannya berakhir. Ada kerinduan masyarakat bawah melihat kekuasaan yang dianggap zalim mengalami kehancuran sebagaimana Fir’aun. Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan.
Kisah Fir’aun bukan hanya kisah tentang hasil akhir. Tetapi kisah tentang sebuah proses.
Allah tidak serta-merta menenggelamkan Fir’aun. Ada kronologi panjang sebelum sampai pada titik kehancuran.
Al-Qur’an menggambarkan berbagai tanda dan peringatan yang datang secara bertahap: rasa takut, kekeringan, banjir, belalang, kutu, katak, serta darah. Semua itu merupakan rangkaian peringatan yang menunjukkan bahwa kehancuran sebuah kekuasaan bukanlah sesuatu yang harus dibayangkan terjadi dalam satu malam.
Dengan kata lain: Allah mempunyai mekanisme-Nya sendiri.
Manusia tidak perlu mengambil alih posisi Allah sebagai eksekutor. Prerogatif untuk memberikan hukuman, mencabut kekuasaan, menyelamatkan hamba, maupun menghancurkan sebuah rezim tetap berada di tangan Allah SWT. Lalu apa yang harus dilakukan manusia abad ke-21?
Saya menyebutnya: mempuritanisasi keyakinan.
APA ITU PURITANISASI KEYAKINAN?
Sederhana saja. Jika masih ragu kepada Allah SWT, buang keraguan itu.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah mempunyai kekuasaan untuk memberikan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Dia kehendaki.
“Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki…” (QS. Ali ‘Imran: 26)
Maka pertanyaannya:
Masihkah kita meragukan kemampuan Allah untuk membalikkan keadaan?
Kalau seseorang mengaku percaya kepada Allah tetapi pada saat bersamaan menganggap Allah tidak mungkin menolongnya, bukankah di situ telah terjadi problem dalam proyeksi ketuhanannya?
Demikian pula dengan kecemasan. Jika kecemasan terus dipelihara sampai seseorang merasa tidak ada lagi jalan keluar, maka persoalannya bukan sekadar psikologis. Kecemasan dapat berubah menjadi persoalan teologis: seberapa jauh kita benar-benar mempercayai Allah?
KETIKA LAUT DI DEPAN, FIR’AUN DI BELAKANG
Inilah salah satu adegan paling dramatis dalam Al-Qur’an. Followers Musa AS berada dalam posisi yang secara matematis tampak mustahil.
Di depan mereka laut. Di belakang mereka tentara Fir’aun. Mereka melihat realitas dengan mata kepala sendiri. Mereka melihat jumlah pasukan Fir’aun. Mereka mengetahui reputasi kekejaman rezim tersebut. Mereka mengetahui apa yang telah dilakukan Fir’aun kepada Bani Israil.
Maka lahirlah kalimat:
إِنَّا لَمُدْرَكُونَ : “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” (QS. Asy-Syu’ara: 61)
Perhatikan. Mereka tidak sedang berbohong. Mereka sedang membaca kenyataan berdasarkan apa yang mereka lihat. Tentara Fir’aun memang datang. Laut memang ada di depan. Jalan keluar memang belum terlihat. Tetapi justru di sinilah letak problemnya.
Mereka membaca realitas dengan benar, tetapi memproyeksikan Tuhan secara keliru.
Musa AS kemudian menjawab:
كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ : “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62)
Ini bukan sekadar kalimat optimisme. Ini adalah dekonstruksi terhadap cara berpikir pengikut Musa AS. Musa AS seakan mengatakan:
Jangan jadikan apa yang kalian lihat sebagai ukuran terakhir tentang apa yang Allah mampu lakukan.
Kalian melihat laut. Allah melihat jalan. Kalian melihat tentara Fir’aun. Allah melihat akhir dari perjalanan mereka. Kalian melihat kematian. Allah melihat keselamatan.
ALLAH KW
Di sinilah saya menggunakan istilah “Allah KW”. Bukan berarti ada Tuhan lain. Bukan. Allah tetap satu. Yang berbeda adalah gambaran manusia tentang Allah.
Allah KW adalah Allah yang lahir dari proyeksi ketakutan manusia. Allah KW adalah Tuhan yang seolah-olah hanya mampu melakukan sesuatu apabila keadaan memungkinkan. Allah KW adalah Tuhan yang kemampuannya dibatasi oleh kalkulasi manusia.
Jika musuh terlalu banyak, maka Allah dianggap tidak mampu menolong. Jika kekuasaan terlalu kuat, maka Allah dianggap tidak mampu meruntuhkannya. Jika masalah terlalu besar, maka Allah dianggap tidak memiliki jalan keluar. Inilah Tuhan yang sebenarnya bukan Allah SWT, melainkan Allah versi proyeksi kecemasan manusia.
Karena itu Al-Qur’an memberikan kritik yang sangat tajam:
“Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Furqan: 43)
Problem terbesar manusia terkadang bukan tidak memiliki Tuhan. Problemnya adalah: memiliki gambaran tentang Tuhan yang keliru.
PENGETAHUAN BISA MENJADI BAHAN BAKAR KECEMASAN
Menariknya, followers Musa AS bukan orang bodoh. Mereka justru memiliki pengetahuan tentang Fir’aun. Mereka tahu kekejaman rezim tersebut. Mereka tahu bahwa Fir’aun pernah membunuh anak-anak laki-laki Bani Israil.
Mereka tahu kekuatan militernya. Mereka tahu bagaimana Fir’aun memperlakukan orang-orang yang melawannya. Mereka juga mengetahui nasib para penyihir yang beriman kepada Musa AS.
Pengetahuan itu benar. Tetapi masalahnya adalah ketika pengetahuan tersebut digunakan untuk membuat kesimpulan:
“Kalau begitu kita pasti mati.”
Di sinilah pengetahuan berubah menjadi bahan bakar kecemasan. Pengetahuan tentang kekejaman Fir’aun menghasilkan ketakutan. Ketakutan menghasilkan kepanikan. Kepanikan menghasilkan hopelessness. Dan hopelessness membuat manusia seolah-olah lupa bahwa Allah ada.
Padahal:
mengetahui kekuatan musuh tidak sama dengan mengetahui masa depan.
Kita boleh mengetahui betapa kuatnya Fir’aun. Tetapi kita tidak pernah tahu sebesar apa pertolongan Allah.
NALAR YANG MENJAJAH PERASAAN
Terkadang nalar adalah sumber masalah. Bukan karena nalar itu buruk. Tetapi karena nalar mempunyai batas. Terkadang berlimpah pengetahuan justru membuat manusia semakin takut.
Semakin banyak tahu tentang kekejaman rezim, semakin takut kepada rezim. Semakin banyak tahu tentang kemungkinan buruk, semakin sibuk membayangkan kemungkinan buruk.
Akhirnya nalar menjajah perasaan. Manusia lupa bahwa:
realitas yang sedang berlangsung bukanlah keseluruhan realitas.
Followers Musa AS melihat satu frame. Allah mengetahui keseluruhan film. Mereka melihat Fir’aun mengejar. Allah mengetahui Fir’aun akan tenggelam. Mereka melihat laut sebagai penghalang.
Allah menjadikan laut sebagai jalan. Mereka melihat kematian di depan mata. Allah menyediakan keselamatan. Maka kesalahan mereka bukan semata-mata karena mereka melihat bahaya.
Kesalahannya adalah menjadikan bahaya sebagai kesimpulan terakhir.
KIAMATNYA SIAPA?
Ini bagian paling menarik. Followers Musa AS mengira:
“Kita akan tamat.”
Tetapi siapa yang akhirnya tamat? Bukan mereka. Fir’aun dan tentaranya. Di sinilah Allah membongkar kesalahan proyeksi ketakutan mereka. Orang yang merasa dirinya berada di ujung kematian ternyata diselamatkan. Orang yang merasa dirinya sedang mengejar kemenangan justru masuk ke dalam kebinasaan.
Maka:
ketakutan followers Musa AS terbukti tidak menjadi kenyataan.
Bukan karena bahaya itu tidak nyata. Bahaya itu nyata. Tetapi karena bahaya bukan penentu akhir cerita. Penentu akhirnya adalah Allah SWT.
ALLAH ORI
Lalu seperti apa “Allah ORI”? Bukan Tuhan yang diciptakan oleh rasa takut kita. Bukan Tuhan yang kemampuan-Nya kita ukur berdasarkan kekuatan musuh. Bukan Tuhan yang pertolongan-Nya kita batasi berdasarkan kalkulasi manusia.
Allah ORI adalah Allah sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya dalam wahyu. Allah yang memiliki kerajaan. Allah yang memberikan kerajaan. Allah yang mencabut kerajaan. Allah yang membolak-balikkan keadaan. Allah yang menyelamatkan Musa AS dan Bani Israil. Allah yang menenggelamkan Fir’aun. Dan Allah yang tidak membutuhkan izin manusia untuk melakukan semua itu.
Karena itu, orisinalitas dalam menyembah Allah adalah harga mati.
Jangan sampai kita mengaku menyembah Allah, tetapi dalam praktiknya kita lebih takut kepada kekuatan manusia daripada kepada Allah. Jangan sampai kita mengaku percaya kepada Allah, tetapi hati kita sudah menyimpulkan bahwa tidak mungkin ada pertolongan. Jangan sampai kita mengatakan “Allah Maha Kuasa”, tetapi ketika berhadapan dengan persoalan besar, kita diam-diam membuat batas:
“Yang ini Allah mungkin tidak bisa.”
Itulah saat manusia mulai membangun Allah versi pikirannya sendiri. Allah KW.
PURITANISASI KEYAKINAN
Maka puritanisasi keyakinan bukan berarti manusia berhenti menggunakan akal. Bukan pula berarti manusia mengabaikan fakta. Musa AS tidak mengajarkan pengikutnya menjadi bodoh. Musa AS justru mengajarkan mereka agar tidak menjadikan fakta sebagai Tuhan.
Laut adalah fakta. Tentara Fir’aun adalah fakta. Kekuatan rezim adalah fakta. Tetapi semua fakta itu tetap berada di bawah kehendak Allah.
Karena itu:
Gunakan nalar untuk membaca keadaan. Gunakan iman untuk membaca kemungkinan pertolongan Allah.
Jangan dibalik. Jangan sampai nalar membaca keadaan, lalu sekaligus mengambil alih tugas Allah untuk menentukan akhir.
PENUTUP
Mungkin inilah salah satu pesan terdalam dari kisah Musa AS. Ketika laut berada di depan dan Fir’aun berada di belakang, manusia mudah sekali mengatakan: “Selesai.” Tetapi Musa AS mengatakan: “Kallā.” Tidak.
Jangan terburu-buru menyimpulkan. Jangan jadikan kecemasan sebagai wahyu. Jangan jadikan ketakutan sebagai prediksi ilahi. Jangan menjadikan kekuatan manusia sebagai ukuran kekuasaan Allah. Sebab bisa jadi yang kita sebut sebagai “kenyataan terakhir” hanyalah kenyataan sementara.
Dan bisa jadi Tuhan yang selama ini kita bayangkan dalam kepala bukan Allah sebagaimana Dia sebenarnya, melainkan Allah hasil proyeksi ketakutan kita sendiri. Karena itu:
Memelihara kecemasan dapat menjadi pintu menuju “Tuhan KW”.
Sebaliknya,
memurnikan keyakinan kepada Allah dapat menjadi jalan menuju penyembahan kepada “Allah ORI”.
Di hadapan laut, Musa AS tidak menjanjikan bahwa laut akan langsung terbelah, hanya mengembalikan satu hal yang hampir hilang dari followers-nya:
keyakinan bahwa Allah tetap hadir.
Dan ketika keyakinan itu kembali, jalan yang sebelumnya tidak terlihat akhirnya terbuka.
