Jika pemimpin masa depan adalah sebuah bangunan megah, maka guru adalah arsiteknya.

Gurulah yang menggambar fondasi karakter. Gurulah yang menegakkan pilar ilmu pengetahuan. Dan gurulah yang memasang atap moral agar bangunan kehidupan seorang anak tidak mudah roboh diterpa zaman. Karena itu, ada sebuah pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan :

Pernahkah kita melihat bangunan yang kokoh dibangun oleh arsitek yang dibiarkan kelaparan?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah letak ironi pendidikan kita.

Kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Kita ingin melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, inovatif, mampu bersaing di tingkat global, sekaligus tetap memiliki akar kebangsaan.

Kita meminta guru menjadi teladan. Kita meminta guru menjadi pendidik sekaligus motivator. Kita meminta guru membangun karakter. Kita meminta guru mendampingi anak-anak menghadapi perubahan teknologi yang begitu cepat.

Tetapi pada saat yang sama, masih ada guru yang setiap hari harus memikirkan pertanyaan yang jauh lebih sederhana:

Besok makan apa?

Di sinilah kita harus berani bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sungguh-sungguh menghargai guru sebagai arsitek masa depan bangsa?

Guru Bukan Sekadar Pengajar

Sering kali kita melihat guru hanya sebagai orang yang berdiri di depan kelas, menyampaikan materi pelajaran, memberi tugas, memeriksa pekerjaan siswa, lalu pulang.

Padahal pekerjaan guru jauh lebih besar daripada itu. Guru sedang membentuk manusia. Guru sedang berhadapan dengan anak yang suatu hari kelak mungkin menjadi dokter, hakim, pengusaha, petani, ilmuwan, birokrat, tentara, pemimpin daerah, bahkan pemimpin negara.

Apa yang ditanamkan guru hari ini mungkin baru terlihat hasilnya dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian.

Seorang guru mungkin tidak pernah tahu bahwa satu nasihat yang diberikan di ruang kelas akan diingat muridnya sepanjang hidup. Guru mungkin tidak tahu bahwa satu keteladanan kecilnya akan menjadi pegangan seorang anak ketika kelak menghadapi godaan kekuasaan. Karena itu, pekerjaan guru sesungguhnya adalah pekerjaan jangka panjang.

Guru tidak sekadar mengajar anak-anak untuk menghadapi ujian. Guru sedang mempersiapkan manusia untuk menghadapi kehidupan.

Maka sudah seharusnya bangsa ini memperlakukan guru bukan sebagai beban anggaran, melainkan sebagai investasi peradaban.

Ketika Arsitek Masa Depan Masih Cemas dengan Dapur

Kita sering membandingkan kualitas pendidikan Indonesia dengan negara lain. Perbandingan itu tidak selalu sederhana karena sistem pendidikan, biaya hidup, struktur tunjangan, dan status kepegawaian setiap negara berbeda.

Namun satu hal yang patut menjadi perhatian adalah bagaimana sebuah negara menempatkan kesejahteraan guru dalam kebijakan pendidikannya.

Berbagai laporan mengenai kesejahteraan guru di kawasan ASEAN menunjukkan adanya kesenjangan penghasilan dan sistem penghargaan terhadap profesi guru. Singapura, misalnya, dikenal memiliki sistem remunerasi guru yang relatif tinggi, sementara negara-negara lain di kawasan juga terus melakukan penyesuaian terhadap kesejahteraan tenaga pendidiknya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Untuk guru ASN, pemerintah telah beberapa kali melakukan penyesuaian gaji. PP Nomor 5 Tahun 2024, misalnya, mengubah ketentuan gaji pokok PNS dan berlaku mulai 1 Januari 2024.

Untuk PPPK, pemerintah juga telah menetapkan struktur gaji melalui Perpres Nomor 11 Tahun 2024. Artinya, negara sebenarnya telah bergerak.

Tetapi persoalan pendidikan tidak berhenti pada guru ASN. Masih ada persoalan guru non-ASN, guru honorer, guru di sekolah kecil, guru di daerah terpencil, dan mereka yang penghasilannya belum memberikan rasa aman bagi kehidupan sehari-hari.

Di sinilah kita harus melihat persoalan secara lebih manusiawi. Seorang guru yang selepas mengajar masih harus mencari pekerjaan tambahan bukan berarti ia tidak berdedikasi.

Bisa jadi justru karena ia berdedikasi, tetapi kebutuhan hidup memaksanya mencari penghasilan tambahan. Pagi berdiri di depan kelas. Siang mencari pekerjaan lain. Sore menjadi pengemudi. Malam kembali memeriksa tugas murid.

Lalu kapan ia mempunyai waktu untuk meningkatkan kompetensi dirinya Kapan membaca buku? Kapan menyusun inovasi pembelajaran? Kapan melakukan refleksi? Dan yang lebih penting:

Kapan guru bisa benar-benar hadir untuk keluarganya?

Guru yang Lapar Bukan Hanya Lapar Perut

Ada satu hal yang sering kita lupakan. Kelaparan seorang guru tidak selalu berarti perut yang kosong. Ada kelaparan lain yang jauh lebih dalam.

Guru bisa lapar akan penghargaan. Lapar akan kepastian. Lapar akan keadilan. Lapar akan perlindungan. Lapar akan kesempatan untuk berkembang.

Ketika seorang guru harus berutang untuk membeli buku. Ketika seorang guru merasa malu karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah anaknya sendiri. Ketika seorang guru bertahun-tahun mengabdi tetapi masa depannya tetap tidak jelas.

Ketika seorang guru bekerja dengan beban moral yang besar tetapi penghargaan yang diterimanya tidak sebanding dengan tanggung jawabnya. Maka sesungguhnya yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya kesejahteraan seorang guru.

Kita sedang mempertaruhkan wibawa pendidikan itu sendiri. Sebab bagaimana mungkin kita meminta seorang guru mengajarkan optimisme kepada muridnya, sementara hidupnya sendiri dipenuhi kecemasan?

Bagaimana mungkin kita meminta guru mengajarkan ketenangan, sementara setiap bulan gelisah memikirkan kebutuhan rumah tangga Bagaimana mungkin kita meminta guru menjadi teladan tentang masa depan, jika masa depannya sendiri tidak memberikan kepastian?

Negara Sudah Mengakui Bahwa Kesejahteraan Guru Adalah Hak

Persoalan kesejahteraan guru sebenarnya bukan semata-mata persoalan belas kasihan. Tapi persoalan hak.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara tegas menyatakan bahwa guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. UU tersebut juga menjelaskan bahwa penghasilan tersebut mencakup gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, serta maslahat tambahan yang terkait dengan tugas guru.

Kalimat itu penting. Karena kesejahteraan guru bukan hadiah. Bukan kemurahan hati. Bukan pula sesuatu yang diberikan hanya ketika anggaran sedang longgar.

Kesejahteraan guru adalah bagian dari penghormatan negara terhadap profesi yang memikul tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tentu saja, pemenuhan hak tersebut harus berjalan sesuai kemampuan fiskal negara, sistem kepegawaian, dan kebijakan pendidikan yang berlaku.

Tetapi prinsipnya harus jelas:

Jangan sampai kita berbicara terlalu tinggi tentang masa depan pendidikan, sementara fondasi kesejahteraan pendidiknya masih rapuh.

Jangan Salah Menempatkan Prioritas

Kita sering bangga ketika sebuah sekolah memiliki gedung baru. Ruang kelas diperbaiki. Laboratorium dibangun. Lapangan diperindah. Teknologi pembelajaran dipasang. Semua itu penting. Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa bangunan fisik hanyalah wadah.

Yang menghidupkan sekolah adalah manusia di dalamnya.

Gedung yang megah tidak otomatis menghasilkan manusia hebat. Laboratorium yang lengkap tidak otomatis melahirkan ilmuwan. Komputer yang canggih tidak otomatis menghasilkan generasi inovatif.

Sebab di balik semua fasilitas itu tetap ada seorang guru.  Guru yang menjelaskan, yang membimbing, yang mengoreksi, yang mendengarkan keluhan murid, yang menemukan bakat seorang anak, yang terkadang menjadi orang pertama yang menyadari bahwa seorang murid sedang kehilangan arah.

Karena itu, pembangunan pendidikan harus memperhatikan dua hal sekaligus:

membangun ruang belajar dan membangun manusia yang menghidupkan ruang belajar tersebut.

Investasi Terbaik Adalah Manusia

Kalau kita benar-benar ingin Indonesia Emas 2045, maka investasi pendidikan tidak boleh hanya dihitung dari berapa banyak gedung yang dibangun.

Ukuran keberhasilan pendidikan juga harus dilihat dari:

Berapa banyak guru yang berkembang, berapa banyak guru yang hidup dengan layak, berapa banyak guru yang merasa aman menjalankan profesinya, berapa banyak guru yang memiliki kesempatan meningkatkan kompetensi, dan berapa banyak guru yang masih memiliki energi untuk mendidik dengan hati. Sebab guru yang sejahtera bukan berarti guru yang mengejar kemewahan.

Guru hanya membutuhkan kehidupan yang layak agar pikirannya tidak terus-menerus dibebani kecemasan ekonomi. Guru membutuhkan kepastian agar dapat merencanakan masa depan. Guru membutuhkan penghargaan agar profesinya tetap memiliki martabat.  Dan guru membutuhkan ruang untuk berkembang agar ia mampu membawa murid-muridnya berkembang.

Arsitek yang Sejahtera, Bangunan yang Lebih Kokoh

Bayangkan seorang arsitek yang diminta merancang gedung pencakar langit, diberi target tinggi, diminta menggunakan teknologi terbaru, diminta bekerja cepat, diminta menjamin bangunan itu aman selama puluhan tahun.

Tetapi pada saat yang sama, ia tidak diberi cukup waktu, tidak diberi alat yang memadai, dan bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Apakah kita akan heran jika kualitas pekerjaannya terganggu?

Demikian pula guru. Kita meminta mereka membangun manusia. Kita meminta mereka membangun karakter. Kita meminta mereka membangun masa depan. Maka sudah sewajarnya kita memastikan bahwa sang arsitek memiliki kehidupan yang manusiawi. Bukan karena guru harus dimanjakan. Tetapi karena kita menghormati pekerjaan yang mereka lakukan.

Untuk Indonesia Emas 2045

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar angka tahun. Tapi cita-cita. Dan cita-cita sebesar itu membutuhkan manusia yang dipersiapkan sejak sekarang. Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah adalah orang-orang yang kelak akan mengisi ruang-ruang kepemimpinan bangsa.

Mereka akan menjadi pengambil keputusan. Mereka akan mengelola sumber daya. Mereka akan menentukan arah ekonomi. Mereka akan menjalankan pemerintahan. Mereka akan menentukan wajah Indonesia. Dan sebelum mereka menjadi pemimpin, mereka adalah murid. Sebelum mereka menjadi pemimpin, mereka mempunyai guru.

Karena itu, kalau kita ingin menghasilkan pemimpin yang jujur, cerdas, berkarakter, dan memiliki kepedulian kepada sesama, maka kita harus mulai memperhatikan orang-orang yang setiap hari membentuk mereka.

Guru adalah arsitek kepemimpinan masa depan.

Maka jangan hanya bertanya:

“Bangunan seperti apa yang ingin kita bangun?”

Tetapi tanyakan pula:

“Bagaimana kehidupan arsitek yang kita tugaskan membangunnya?”

Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak akan lebih kokoh daripada manusia yang membangunnya. Dan pendidikan tidak akan lebih kuat daripada guru yang menjalankannya. Maka pesan sederhana ini layak kita renungkan bersama:

Jangan meminta bangunan yang kokoh, jika kita masih membiarkan arsiteknya kelaparan.

Karena kalau kita ingin Indonesia memiliki pemimpin yang kokoh pada tahun 2045, maka pekerjaan itu harus dimulai hari ini.

Mulailah dengan memastikan para gurunya kenyang, tenang, dihargai, terlindungi, dan dimuliakan.

Sebab ketika arsiteknya berdiri dengan tegak, ada harapan bangunan yang ia rancang juga akan berdiri kokoh.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *