Dulu, dakwah membutuhkan mimbar, pengeras suara, dan ratusan orang yang berkumpul di masjid atau majelis taklim. Hari ini, dakwah cukup dengan satu jempol, satu konten, dan satu kesempatan untuk menjadi viral. Seorang ustaz melalui TikTok, misalnya, dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam waktu semalam.
Inilah revolusi dakwah di era digital. Sebuah berkah besar, tetapi sekaligus menjadi ujian yang juga tidak kalah besar.
Allah SWT berfirman:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Perintahnya tetap sama. Medannya yang berubah. Dari mimbar ke timeline. Dari majelis taklim ke kolom komentar. Dari pengeras suara masjid ke layar telepon genggam.
Pertanyaannya kemudian: apakah perubahan medan dakwah itu juga diikuti perubahan cara kita menjaga akhlak?
Pertama, Peluang dan Tantangan: Dakwah Tanpa Batas
Dahulu, seorang da’i dibatasi oleh tempat dan waktu. Ceramah hanya bisa didengar oleh mereka yang hadir secara langsung.
Sekarang, satu ceramah berdurasi satu menit dapat menjangkau pemuda di berbagai pelosok negeri. Sebuah nasihat berdurasi 30 detik bahkan bisa menjadi pengingat bagi seseorang yang sedang berada dalam kondisi sulit. Inilah kekuatan dakwah digital.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)
Telepon genggam yang berada di tangan kita hari ini dapat menjadi sarana dakwah yang luar biasa. Namun, juga merupakan amanah. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi jalan menyebarkan kebaikan justru berubah menjadi sarana menyebarkan kebencian. Sebab, semakin luas jangkauan sebuah pesan, semakin besar pula tanggung jawab orang yang menyampaikannya.
Kedua, Ujian Berat: Ketika Akhlak Para Da’i Diuji
Di sinilah persoalan dakwah digital menjadi semakin serius.
Tidak sedikit orang yang akhirnya terjebak dalam logika algoritma. Dakwah berubah menjadi sekadar “konten”. Ukuran keberhasilan bergeser dari seberapa besar manfaat yang diberikan menjadi seberapa banyak view, like, dan follower yang diperoleh.
Demi view, ada yang rela memprovokasi. Demi like, rela menghujat. Demi follower, bahkan ada yang menebarkan kebencian atas nama amar ma’ruf nahi munkar.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra: 53)
Dakwah digital tidak membutuhkan da’i yang paling lucu. Tidak pula membutuhkan da’i yang paling kontroversial. Dakwah membutuhkan da’i yang jujur, santun, berilmu, dan mampu memberikan keteladanan. Sebab dakwah bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap.
Di dunia nyata, orang melihat akhlak kita secara langsung. Di dunia maya, akhlak kita meninggalkan rekam jejak. Status, komentar, unggahan, share, bahkan kalimat yang kita tuliskan dalam sebuah perdebatan dapat tersimpan dan dibaca kembali bertahun-tahun kemudian.
Jejak digital mungkin tidak mudah hilang. Dan bagi seorang muslim, lebih dari sekadar persoalan jejak digital, setiap perkataan pada akhirnya juga merupakan bagian dari pertanggungjawaban kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
Karena itu, seorang da’i di era digital bukan hanya diuji oleh keluasan ilmunya. Tetapi juga diuji oleh akhlaknya ketika mendapat komentar negatif, ketika dikritik, ketika berbeda pendapat, dan ketika memiliki kesempatan untuk membalas dengan kata-kata yang menyakitkan. Di situlah akhlak sesungguhnya terlihat.
Ketiga, Tantangan untuk Kita Semua: Menjadi Da’i atau Penyebar Hoaks?
Dakwah digital bukan hanya urusan para ustaz, ulama, atau penceramah. Setiap orang yang memiliki WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, dan media sosial lainnya pada dasarnya memiliki ruang untuk menyampaikan pesan kepada orang lain.
Dengan satu kali menekan tombol share, kita dapat menyebarkan sebuah informasi kepada puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang. Karena itu, sebelum membagikan sebuah informasi, setidaknya ada tiga pertanyaan sederhana yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri.
1. Benarkah?
Jangan terburu-buru menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Di era banjir informasi, kemampuan memeriksa kebenaran adalah bagian dari akhlak digital.
2. Baikkah?
Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang kasar. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.
Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka sebelum mengetik komentar, tanyakan kepada diri sendiri: apakah kata-kata ini akan memperbaiki keadaan atau justru memperkeruhnya?
3. Bermanfaatkah?
Pertanyaan terakhir adalah soal manfaat. Apakah informasi yang kita bagikan memberikan ilmu? Memberikan semangat? Mengingatkan kepada kebaikan? Membantu orang lain? Atau justru hanya menimbulkan kemarahan, prasangka, dan perpecahan?
Dakwah bukan sekadar membuat orang melihat. Dakwah adalah ikhtiar agar apa yang dilihat itu memberikan manfaat.
Penutup: Mengisi Ruang Digital dengan Akhlak
Revolusi digital tidak mungkin kita lawan. Teknologi akan terus berkembang. Media sosial akan terus berubah. Algoritma akan terus menentukan apa yang muncul di hadapan kita.
Yang dapat kita lakukan adalah mengisinya dengan kebaikan. Isi ruang digital dengan ilmu yang membangun, bukan dengan ucapan yang menjatuhkan. Isi dengan nasihat yang menyejukkan, bukan provokasi. Isi dengan akhlak Rasulullah SAW yang membuat manusia mengenal Islam melalui keteladanan, bukan melalui ketakutan.
Wahai para da’i, dan juga kita semua.
Mimbar kita hari ini berada dalam genggaman.
Jadikan jari kita sebagai alat untuk berdakwah, bukan untuk melukai. Jadikan media sosial sebagai ruang menebarkan kebaikan, bukan medan perang. Jadikan feed kita sebagai jalan menuju kebaikan, bukan tempat menumpuk kebencian.
Sebab bisa jadi, satu unggahan sederhana yang kita anggap biasa saja, justru menjadi sebab seseorang mendapatkan pengingat, menemukan harapan, memperbaiki dirinya, dan akhirnya kembali mendekat kepada Allah SWT.
Itulah dakwah digital yang sesungguhnya: teknologi berubah, tetapi akhlak tetap menjadi ruhnya.
