JAKARTA — Pemerintah tengah mematangkan skema insentif untuk mempercepat pengembangan pasar kendaraan listrik nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut anggaran untuk program tersebut sebenarnya telah tersedia dan telah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan Airlangga seusai menghadiri Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.
“Skemanya sedang dimatangkan, tapi kan tadi Pak Presiden sudah menyetujui. Anggarannya sebetulnya sudah ada,” ujar Airlangga, dikutip dari Antara.
Airlangga juga mengungkapkan dua merek sepeda motor listrik produksi dalam negeri yang akan mendapatkan insentif tersebut. “Untuk produknya, salah satunya Alva, salah duanya Gesits,” katanya.
Kebijakan insentif kendaraan listrik sebelumnya terbukti mampu mendorong pertumbuhan pasar. Penjualan sepeda motor listrik meningkat dari 17.198 unit pada 2022 menjadi 62.409 unit pada 2023. Angka tersebut kembali meningkat menjadi 77.078 unit pada 2024. Namun, pada 2025 penjualan tercatat turun menjadi 55.059 unit.
Bantuan Pemerintah Dorong Penjualan
Program bantuan pembelian Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) roda dua pada 2023 dan 2024 melibatkan 22 industri dengan 70 tipe atau model kendaraan.
Pada 2023, penyaluran bantuan mencapai 11.532 unit. Angka tersebut melonjak menjadi 62.541 unit pada 2024 atau meningkat sekitar 442 persen.
Secara kumulatif, sebanyak 74.073 unit sepeda motor listrik telah mendapatkan bantuan pembelian melalui program pemerintah tersebut.
Data tersebut menunjukkan bahwa insentif memiliki pengaruh cukup kuat dalam membentuk dan memperluas pasar kendaraan listrik roda dua di Indonesia.
Kapasitas Produksi Sudah Besar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk membangun industri kendaraan listrik yang terintegrasi.
Saat ini terdapat 69 perusahaan industri KBLBB roda dua dan roda tiga dengan total kapasitas produksi mencapai 2,511 juta unit per tahun. Nilai investasinya mencapai sekitar Rp1,2 triliun.
Selain itu, industri kendaraan listrik roda empat juga terus berkembang. Saat ini terdapat 14 perusahaan kendaraan listrik roda empat dengan kapasitas produksi 409.860 unit per tahun.
Sementara itu, terdapat 10 perusahaan kendaraan komersial listrik dengan kapasitas produksi mencapai 7.500 unit per tahun.
Secara keseluruhan, nilai investasi industri perakitan kendaraan listrik nasional telah mencapai sekitar Rp30,468 triliun.
Besarnya kapasitas produksi tersebut, menurut Agus, menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki fondasi manufaktur yang cukup memadai. Persoalan berikutnya adalah bagaimana memastikan pasar tumbuh secara berkelanjutan sehingga kapasitas produksi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Besarnya kapasitas produksi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki fondasi manufaktur yang sangat memadai. Tantangan kita berikutnya adalah memastikan pasar tumbuh secara berkelanjutan, utilisasi kapasitas produksi meningkat, dan pada saat yang sama struktur industri semakin dalam melalui penggunaan komponen buatan dalam negeri,” ujar Agus.
MoLiNas Jadi Momentum Industri Nasional
Pengembangan kendaraan listrik nasional mendapat momentum baru setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Motor Listrik Nasional (MoLiNas) beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).
Sebelum peluncuran, Presiden Prabowo meninjau langsung proses produksi motor listrik di fasilitas ALVA. Presiden kemudian meninjau stan ekosistem kendaraan listrik serta menandatangani plakat produksi ALVA sebanyak 20 ribu unit.
Agus Gumiwang menilai peluncuran MoLiNas bukan sekadar peluncuran produk baru, tetapi harus menjadi momentum untuk memperkuat kemampuan industri nasional dalam menguasai teknologi dan memperdalam struktur industri kendaraan listrik.
“MoLiNas harus kita jadikan sebagai momentum untuk membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang semakin kuat dari hulu sampai hilir. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi harus menjadi basis produksi dan pengembangan teknologi kendaraan listrik yang memiliki daya saing global,” kata Agus di Bekasi.
Menurutnya, pengembangan MoLiNas sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat kemandirian bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kemampuan industri nasional.
Pemerintah juga mendorong sinergi antara BUMN, perusahaan swasta, lembaga riset, akademisi dan sektor keuangan. Sinergi tersebut diharapkan dapat membangun ekosistem kendaraan listrik nasional secara menyeluruh.
Tantangan Bukan Lagi Sekadar Produksi
Dengan kapasitas produksi yang telah mencapai jutaan unit per tahun, tantangan industri kendaraan listrik Indonesia kini tidak semata-mata berada pada kemampuan memproduksi kendaraan.
Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana menciptakan pasar yang berkelanjutan, meningkatkan tingkat utilisasi pabrik, memperkuat rantai pasok, serta meningkatkan penggunaan komponen buatan dalam negeri.
Karena itu, rencana pemberian insentif kepada produk seperti ALVA dan Gesits menjadi bagian penting dari upaya pemerintah menjaga pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional.
Namun, keberhasilan kebijakan tersebut pada akhirnya akan sangat bergantung pada desain insentif yang tepat. Insentif tidak hanya diharapkan meningkatkan penjualan dalam jangka pendek, tetapi juga mampu memperkuat industri nasional agar tidak sekadar menjadi pasar bagi kendaraan listrik.
Target akhirnya adalah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, pengembangan teknologi, sekaligus pasar kendaraan listrik yang kompetitif di tingkat global.
